Renungan Ramadan: Tak Semua Ibadah Diterima Allah SWT

SERO, GOWAMEDIA.COM - Ceramah tarwih 09 Ramadan 1446 H, Sabtu, 8 Maret 2025, di Masjid Al-'Amri, Sero, Gowa, memotivasi kita untuk benar-benar memanfaatkan momentum Ramadan ini. Sembari mengingatkan bahwa tidak semua ibadah kita mutlak diterima Allah Swt.
Alhamdulillah, setelah 336 hari berlalu sejak Ramadan sebelumnya, Allah masih memberi kita kesempatan untuk kembali bertemu dengan bulan yang penuh berkah ini. Banyak di antara kita yang mungkin tidak menyadari betapa berharganya kesempatan ini. Ada yang tidak memanfaatkan Ramadan dengan maksimal, sehingga ibadahnya berlalu begitu saja tanpa makna.
Dari awal, Allah SWT telah memanggil hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menjalankan puasa Ramadan:
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)
Dalam ayat ini, Allah tidak memanggil semua manusia, tetapi hanya orang-orang yang beriman. Mengapa? Karena tidak semua yang Islam itu beriman, tetapi orang beriman pasti Islam. Oleh karena itu, kita harus berusaha meningkatkan keimanan agar dapat meraih kemuliaan Ramadan dengan ibadah yang diterima oleh Allah SWT.
Ramadan adalah bulan penuh rahmat dan pengampunan. Ada tiga kabar baik yang Allah SWT berikan kepada kita di bulan ini:
1. Pengampunan Dosa
Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari no. 38, Muslim no. 760)
2. Pahala Dilipatgandakan
Di bulan Ramadan, semua amalan sunnah berpahala seperti amalan wajib, dan amalan wajib dilipatgandakan pahalanya berkali-kali lipat.
Rasulullah SAW bersabda:
"Setiap amal anak Adam akan dilipatgandakan, satu kebaikan diberi balasan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya secara langsung." (HR. Muslim no. 1151)
3. Orang yang Meninggal di Ramadan Dibebaskan dari Azab Kubur
Orang yang meninggal dalam keadaan beriman dan beribadah di bulan Ramadan akan terhindar dari azab kubur. Sedangkan bagi orang yang tidak beriman, azab kuburnya akan ditunda hingga Ramadan berakhir.
Ini menunjukkan betapa mulianya bulan Ramadan sebagai bulan pengampunan dan rahmat dari Allah SWT.
Tidak Semua Ibadah Ramadan Diterima
Salah satu hal yang harus kita khawatirkan adalah apakah ibadah kita selama Ramadan ini diterima atau tidak. Ada orang yang ibadahnya sangat rajin—shalat, mengaji, puasa, sedekah—tetapi ternyata tertolak di sisi Allah SWT.
Siapa mereka? Rasulullah SAW menyebutkan dua golongan yang ibadahnya tidak diterima:
1. Al-Musyahih (Orang yang Menyimpan Sakit Hati dan Permusuhan)
Orang yang menyimpan dendam, sakit hati, atau permusuhan dengan orang lain, termasuk dengan kedua orang tua, keluarga, tetangga, atau bahkan pengurus masjid, akan membuat ibadahnya tertolak.
Rasulullah SAW bersabda:
"Pada malam Nisfu Sya'ban, Allah melihat makhluk-Nya dan mengampuni mereka, kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan." (HR. Ibnu Majah no. 1390)
Jika kita ingin ibadah kita diterima oleh Allah SWT, maka segeralah memaafkan sebelum Ramadan berakhir.
2. Al-Musyrik (Orang yang Berbuat Syirik)
Syirik adalah dosa besar yang paling berbahaya. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (QS. An-Nisa: 48)
Bentuk syirik yang masih banyak terjadi di tengah umat Islam antara lain: Ziarah kubur dengan niat meminta doa kepada orang saleh yang sudah meninggal; pergi ke "orang pintar" atau dukun karena tidak sabar dengan ujian penyakit; menggunakan jimat atau potongan ayat Al-Qur’an sebagai pelindung tanpa membacanya. Padahal Al-Qur’an turun sebagai syifa' (obat) ketika dibaca, bukan untuk dipajang sebagai jimat.
Agar ibadah kita tidak sia-sia, ada dua syarat utama agar diterima di sisi Allah SWT:
1. Ikhlas
Semua ibadah harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT, bukan untuk mendapat pujian manusia.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya." (HR. An-Nasa’i no. 3140)
2. Ittiba’ (Mencontoh Nabi SAW)
Segala ibadah harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Jangan membuat amalan yang tidak diajarkan oleh beliau, karena itu bisa termasuk bid’ah yang tertolak.
Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami yang bukan dari ajarannya, maka itu tertolak." (HR. Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718)
Ramadan adalah kesempatan emas yang tidak boleh kita sia-siakan. Keutamaannya sangat besar, yaitu pengampunan dosa, pelipatgandaan pahala, dan terbebas dari azab kubur. Namun, tidak semua ibadah diterima. Ada dua golongan yang amalnya tertolak:
1. Orang yang menyimpan sakit hati dan permusuhan
2. Orang yang berbuat syirik
Oleh karena itu, marilah kita memurnikan niat, menjaga keikhlasan, dan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW dalam beribadah. Semoga Ramadan ini menjadi Ramadan terbaik dalam hidup kita dan ibadah kita diterima Allah SWT. Aamiin. (*)