Renungan Ramadan: Prioritas Ibadah Wajib & Sunah

Renungan Ramadan: 

Prioritas Ibadah Wajib & Sunah

SUNGGUMINASA, GOWAMEDIA.COM - Berikut ini merupakan refleksi dari ceramah subuh di Masjid Agung Syekh Yusuf, Rabu, 5 Maret 2025.

Renungan Ramadan kali ini terkait bagaimana seharusnya seorang Muslim menyusun prioritas dalam ibadahnya, terutama dalam hal salat wajib dan salat sunah. 

Sebagaimana dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Thalhah bin Ubaidillah, ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kewajiban dalam Islam, beliau menjawab bahwa hanya salat lima waktu yang diwajibkan, selain itu adalah amalan sunah. Rasulullah SAW bersabda:

"Salat lima waktu sehari semalam." Pria itu bertanya, "Apakah saya diwajibkan salat selain itu?" Nabi menjawab, "Tidak, kecuali sekadar sunah." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menjadi dasar bahwa dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT, umat Islam harus mendahulukan kewajiban sebelum mengerjakan amalan sunnah. Konsep ini berlaku tidak hanya dalam salat, tetapi juga dalam ibadah lainnya seperti puasa, zakat, dan ibadah lainnya.

Dalam ibadah, ada tingkatan yang perlu dipahami agar tidak salah dalam menyusun prioritas. Jika seseorang mengerjakan yang wajib, maka ia telah menjalankan kewajiban cintanya kepada Allah. Namun, jika seseorang mengerjakan yang sunah, maka Allah yang akan mencintainya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi:

"Hamba-Ku tidak mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya." (HR. Bukhari).

Dalam konteks salat di luar yang wajib siang dan malam, para ulama membaginya ke dalam tiga level: sunah, mustahab, dan tatawwu'.

1. Salat Sunah: Mengikuti Kebiasaan Nabi

Salat sunah adalah ibadah yang dilakukan Nabi secara rutin dan memiliki keutamaan besar. Salah satu contohnya adalah salat rawatib, yakni salat sunah yang mengiringi salat wajib. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa yang secara rutin menunaikan dua belas rakaat salat sunah dalam sehari semalam, Allah akan membangunkan untuknya sebuah istana di surga." (HR. Muslim).

Salat sunah rawatib ini terdiri atas: Dua rakaat sebelum Subuh, empat rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah Magrib, dan dua rakaat setelah Isya.

Salah satu pelajaran yang sering terlupakan adalah jangan sampai seseorang lebih mendahulukan salat tarawih dibanding salat sunnah dua rakaat setelah Isya. Salat rawatib setelah Isya lebih Utama dibanding salat tarawih.

2. Salat Mustahab: Ibadah yang Ditekankan tetapi Tidak Rutin Dilakukan Nabi

Salat mustahab adalah sunnah yang memiliki keutamaan besar tetapi tidak dilakukan secara rutin oleh Nabi. Contoh utamanya adalah salat Dhuha. Rasulullah SAW bersabda:

"Di setiap pagi, setiap ruas tulang kalian memiliki kewajiban sedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, dan setiap takbir adalah sedekah. Dan semua itu bisa digantikan dengan salat dua rakaat Dhuha." (HR. Muslim).

Salat Dhuha memang dianjurkan, tetapi tidak boleh menggantikan salat sunnah rawatib yang lebih utama.

3. Salat Tatawwu': Amalan Sunah yang Diperintahkan tetapi Tidak Dilakukan Nabi

Salat tatawwu’ adalah amalan yang Rasulullah SAW anjurkan tetapi beliau sendiri tidak mengerjakannya. Salah satu contohnya adalah salat dua rakaat sebelum Magrib. Rasulullah SAW bersabda:

"Salatlah sebelum Magrib, salatlah sebelum Magrib." Kemudian beliau berkata, "Bagi siapa yang mau melakukannya." (HR. Bukhari).

Namun, banyak orang justru lebih mengutamakan salat ini tetapi mengabaikan salat sunah dua rakaat setelah Magrib, yang justru memiliki keutamaan lebih tinggi.

Dalam beribadah, umat Islam harus memahami tingkatan ibadah agar tidak terjebak dalam kesalahan prioritas. Jangan sampai seseorang semangat dalam mengerjakan salat sunah tertentu tetapi mengabaikan sunah yang lebih utama.

Konsep ini berlaku dalam berbagai aspek ibadah lainnya. Dalam puasa misalnya, wajibnya adalah Ramadan, sementara puasa sunah seperti Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, dan puasa Daud adalah tambahan bagi yang ingin lebih dekat dengan Allah. Begitu juga dalam zakat, kewajiban zakat harus ditunaikan terlebih dahulu sebelum seseorang memperbanyak sedekah sunah.(*)