Renungan Ramadan: Meneladani Kepedulian Nabi Muhammad SAW

SUNGGUMINASA, GOWAMEDIA.COM - Renungan kali ini merupakan inti ceramah subuh Dr. Andi Aderus, Lc., MA. Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Alumni Timur Tengah (ICATT) yang disampaikan pada Kamis, 06 Maret 2025 di Masjid Agung Syekh Yusuf, Kabupaten Gowa.
Dalam ceramahnya, Wakil Rektor Bidang Administrasi dan Umum UIN Alauddin ini, menekankan prinsip penting dalam menjalani Ramadan, yaitu menganggapnya sebagai Ramadan terakhir dalam hidup kita. Dengan prinsip ini, kita akan lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah, memperbaiki diri, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Selain itu, dosen yang segera menerima jabatan guru besar dalam bidang "Teologi Washatiyyah" ini, juga mengangkat kisah tentang kepedulian Nabi Muhammad SAW terhadap sahabat-sahabatnya.
Sebagai seorang nabi sekaligus pemimpin, Rasulullah tidak pernah lalai untuk memperhatikan keadaan sahabat-sahabatnya. Salah satu bentuk kepeduliannya adalah kebiasaannya untuk menengok ke belakang saat berjalan bersama para sahabat.
Jika ada yang tidak hadir, beliau akan mempertanyakannya. Jika sakit, beliau bersama para sahabat lainnya akan menjenguknya. Rasulullah SAW bahkan sering memasuki masjid di luar waktu salat, semata-mata untuk melihat keadaan umatnya.
Salah satu contoh kepedulian Nabi adalah kisah seorang sahabat dari kaum Anshar bernama Abu Umamah. Suatu ketika, Nabi SAW melihatnya berada di masjid di luar waktu salat.
Hal ini tidak biasa, sehingga Nabi bertanya, "Apa yang terjadi padamu?"
Abu Umamah menjawab dengan penuh kesedihan bahwa ia sedang dilanda kegundahan dan terlilit utang. Akibatnya, sahabat-sahabatnya pun mulai menjauhinya.
Mendengar keluh kesah Abu Umamah, Rasulullah SAW tidak hanya memberikan nasihat, tetapi juga solusi konkret dalam bentuk doa. Rasulullah bersabda bahwa jika Abu Umamah mengamalkan doa ini setiap pagi dan sore, Allah SWT akan menghilangkan kegelisahannya dan melunasi utangnya. Doa yang diajarkan adalah sebagai berikut:
"Allahumma inni a'udzu bika minal hammi wal hazan, wa a'udzu bika minal ‘ajzi wal kasal, wa a'udzu bika minal jubni wal bukhl, wa a'udzu bika min ghalabatid daini wa qahri r-rijal."
Artinya:
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa cemas dan sedih, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, serta aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan tekanan manusia."
Dari doa ini, kita dapat terhindar dari empat pasangan masalah (delapan hal) dan hidup lebih kita akan menjadi tenang dan berkah:
1. Gundah Gulana dan Kesedihan yang Berkepanjangan
Pikiran yang terus-menerus dipenuhi kecemasan membuat seseorang sulit menjalani hidup dengan tenang. Kesedihan yang berlarut-larut menghalangi seseorang untuk move on dari masa lalu.
Setiap manusia pasti mengalami ujian dan kesulitan dalam hidupnya. Namun, kecemasan yang berlarut-larut dapat membuat seseorang kehilangan ketenangan dan arah hidup. Terlalu banyak memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi hanya akan membebani pikiran dan menghambat produktivitas.
2. Sifat Lemah dan Rasa Malas
Lemah dalam berpikir, bertindak, dan memiliki keinginan yang rendah untuk menyelesaikan sesuatu. Orang yang malas sering tidak bertanggung jawab atas tugas dan kewajibannya.
Kelemahan dalam berpikir dan bertindak sering kali menyebabkan seseorang tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Orang yang lemah pikirannya cenderung tidak memiliki visi yang jelas dalam hidup. Mereka mudah terpengaruh, sulit mengambil keputusan, dan kurang bertanggung jawab terhadap apa yang telah mereka mulai.
Begitu juga dengan kelemahan fisik dan keinginan yang rendah. Orang yang malas sering menunda pekerjaan, enggan berusaha keras, dan terlalu banyak mencari alasan untuk tidak melakukan sesuatu. Meskipun memiliki potensi besar, jika seseorang tidak mau mengoptimalkannya, maka ia tidak akan pernah berkembang. Islam mengajarkan bahwa Allah mencintai orang yang bersungguh-sungguh dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan-Nya.
3. Menjadi Pengecut dan Kikir
Sifat pengecut adalah sifat yang sangat merugikan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Seorang pengecut tidak memiliki keberanian untuk membela kebenaran. Bahkan ketika kehormatan keluarganya direndahkan atau agamanya dihina, ia tetap diam dan tidak berani bertindak. Keberanian dalam Islam bukanlah sekadar berani dalam perang, tetapi juga berani dalam menyuarakan keadilan dan membela yang lemah.
Sementara itu, sifat kikir adalah ketakutan yang berlebihan terhadap kehilangan harta. Orang yang kikir merasa bahwa hartanya adalah segalanya, sehingga ia enggan berbagi atau bersedekah. Padahal, Islam mengajarkan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta, justru akan menambah keberkahannya. Sifat kikir juga menunjukkan kurangnya rasa syukur kepada Allah atas rezeki yang telah diberikan.
4. Terlilit Utang dan Berada di Bawah Tekanan Orang Lain
Utang yang menumpuk membuat seseorang kehilangan kebebasannya, sementara tekanan dari orang lain bisa menyebabkan penderitaan mental dan fisik.
Berutang memang tidak dilarang dalam Islam, tetapi harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Banyak orang yang terjebak dalam utang karena gaya hidup konsumtif dan tidak mampu mengatur keuangan dengan baik. Akibatnya, utang menumpuk dan sulit untuk dilunasi, hingga akhirnya membebani pikiran dan merusak ketenangan hidup.
Selain itu, tekanan dari orang lain bisa menjadi beban yang berat. Seseorang yang selalu bergantung pada bantuan orang lain akan kehilangan kebebasannya. Ia tidak bisa mengambil keputusan sendiri dan selalu berada di bawah kendali orang lain. Oleh karena itu, Islam mengajarkan kita untuk hidup mandiri, bekerja keras, dan berusaha menghindari utang sebisa mungkin agar tidak berada dalam tekanan pihak lain.
Melalui kisah Abu Umamah, kita melihat betapa besar kepedulian Nabi Muhammad SAW terhadap sahabatnya. Beliau tidak hanya memperhatikan kondisi fisik mereka tetapi juga keadaan mental dan emosional mereka. Rasulullah SAW adalah sosok yang tidak hanya memberi solusi spiritual melalui doa tetapi juga tindakan nyata dengan menemani, mendengarkan, dan memberikan motivasi.
Sebagai umatnya, kita harus meneladani sikap Nabi ini dengan lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, terutama mereka yang sedang dalam kesulitan. Ramadan adalah momen terbaik untuk memperbaiki diri, meningkatkan kepedulian sosial, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.(*)
Pilih saluran andalanmu akses berita GowaMedia.com WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VamRQ1BCHDyibEJvUV3W. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.