Renungan Ramadan: Iman Sebagai Pegangan Hidup

PANAKKUKANG, GOWAMEDIA.COM - Prof Dr H Sattualang, dalam ceramahnya di Masjid Jannatul Firdaus, Blok F, Panakkukang, Makassar, pada malam 22 Ramadan, Jumat, 21 Maret 2025, mengingatkan kembali pentingnya iman dalam kehidupan seorang Muslim.
Waktu berlalu begitu cepat, dan kini kita sudah berada di penghujung Ramadan. Pertanyaannya, sudahkah kita memanfaatkan bulan ini dengan sebaik-baiknya?
Puasa bukan hanya ibadah, tetapi juga anugerah bagi kesehatan tubuh dan jiwa. Rasulullah SAW bersabda:
"Shûmû tasihhû"
"Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat." (HR. Thabrani)
Puasa membersihkan tubuh dari racun, menyeimbangkan metabolisme, serta menyehatkan hati dan pikiran. Namun, puasa bukan sekadar tidak makan dan minum, melainkan juga pengendalian diri dari segala hal yang dapat mengurangi pahala.
Allah SWT berfirman:
"Dan janganlah kamu seperti orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Hasyr: 19)
Maka, manfaatkan sisa umur kita dengan amal kebaikan. Ramadan akan berlalu, tetapi jangan biarkan semangat ibadah kita ikut berlalu begitu saja.
Hidup ini penuh ujian. Jika tidak memiliki iman yang kuat, seseorang bisa mudah goyah. Orang yang benar-benar beriman kepada Allah tidak takut kehilangan harta, jabatan, pasangan, atau bahkan nyawa.
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau, sedangkan negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?" (QS. Al-An’am: 32)
Kita melihat contoh nyata di Palestina. Saudara-saudara kita di sana tidak takut mati dalam mempertahankan tanah airnya. Mereka memiliki haqqul yaqin, keyakinan yang kuat bahwa jika mereka gugur, mereka akan mati syahid.
Rasulullah SAW bersabda:
"Orang yang mati syahid akan diampuni dosanya sejak pertama kali darahnya mengalir, diperlihatkan tempatnya di surga, dilindungi dari siksa kubur, diberi keamanan dari ketakutan yang besar (hari kiamat), dihiasi dengan pakaian iman, dinikahkan dengan bidadari surga, dan diizinkan memberi syafaat kepada 70 anggota keluarganya." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Beberapa keadaan yang dikategorikan sebagai mati syahid: Meninggal karena membela agama Allah; Meninggal karena mempertahankan kehormatan istri dan anak-anaknya; Meninggal karena mempertahankan harta dan tanah miliknya; Meninggal saat mencari rezeki dengan niat yang baik.
Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa keluar dari rumahnya untuk mencari rezeki, lalu ia salat dua rakaat dan berdoa, kemudian meninggal dalam perjalanan, maka ia mati syahid." (HR. Thabrani)
Wanita yang meninggal saat melahirkan. Rasulullah SAW bersabda:
"Wanita yang meninggal saat melahirkan, ia mati syahid." (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Meninggal dalam keadaan menuntut ilmu. Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)
Inilah pentingnya iman. Ia menjadi pegangan hidup dan pemberi ketenangan dalam menghadapi segala ujian.
Rasulullah SAW kelak akan menyaksikan timbangan amal manusia di hari kiamat. Beliau akan memberikan syafaat, tetapi ada orang-orang yang merengek meminta syafaat karena menyesal menyia-nyiakan Ramadan.
Sahabat bertanya, "Siapakah mereka?"
Nabi menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang tidak memanfaatkan Ramadan sebagai bulan ampunan dan maghfirah."
Saat ini jemaah tarawih masih ada tiga shaf. Mungkin besok atau lusa tinggal dua karena sebagian lebih memilih pergi ke mal.
Pergi ke mal tidaklah salah, tetapi alangkah baiknya jika kita mendahulukan masjid. Lebih baik lagi jika para pedagang menutup lapaknya sejenak saat waktu salat dan tarawih, lalu melanjutkan berjualan setelahnya.
Ada sebagian pengemis yang hanya sibuk meminta-minta, tetapi tidak melaksanakan salat. Ini sebuah kekeliruan. Jika benar-benar ingin mendapatkan keberkahan, seharusnya mereka ikut salat terlebih dahulu, baru kemudian mencari rezeki.
Rasulullah SAW bersabda:
"Jika seseorang berserah diri kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepadanya sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang." (HR. Tirmidzi)
Istri mendapatkan pahala yang luar biasa di bulan Ramadan. Dialah yang membangunkan suami dan anak-anaknya untuk sahur, menyiapkan makanan, dan tetap menyempatkan diri untuk tarawih serta membaca Al-Qur'an.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku." (HR. Tirmidzi)
Karena itu, wahai para suami, sayangilah istrimu. Jangan mudah marah kepadanya. Begitu pula para istri, sayangilah suamimu. Jangan baru pulang kerja langsung disambut dengan omelan. Jika seperti itu, suami akan merasa tidak betah di rumah dan lebih memilih pergi ke kafe untuk mencari ketenangan.
Begitu pula dengan anak-anak. Didik mereka dengan penuh kasih sayang, tegur dengan cara yang baik, dan selalu doakan agar mereka tumbuh menjadi anak yang saleh dan salehah.
Hadirin sekalian, mari manfaatkan sisa Ramadan ini dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita termasuk orang yang menyesal di akhirat karena telah menyia-nyiakan bulan penuh keberkahan ini.
Semoga Allah menerima amal ibadah kita, memberikan kita kesehatan, keteguhan iman, serta menjadikan kita hamba-hamba yang bertakwa.(*)