PUASA KOMITMEN SPIRITUAL
Oleh: Abdul Halim Talli
Ibadah puasa merupakan amalan yang telah dipraktikkan umat manusia sejak dulu kala. Nabi Adam as, manusia pertama diciptakan Allah SWT, bapak/kakek umat manusia telah melaksanakan puasa 3 hari dalam setiap sebulannya sebagai bentuk pertobatan kepada Allah SWT. Demikian pula Nabi Nuh, ia telah melakukan ibadah puasa sebagai wujud kesyukurannya kepada Allah SWT setelah diselamatkan dari bencana banjir yang menimpanya. Nabi Musa as berpuasa 40 hari sebagai persiapan diri menerima kitab suci Taurat yang diturunkan Allah kepadanya. Serta Nabi-nabi lainnya juga melaksanakan puasa sesuai dengan syari’at yang ditetapkan baginya.
Ibadah puasa yang ditunaikan oleh umat Rasulullah Muhammad Saw ini telah teruji dan terbukti sebagai ibadah pilihan Allah SWT, ibadah istimewa, qualified, dan menjanjikan untuk ditunaikan oleh hamba-hambaNya, sejak masa Nabi Adam as hingga zaman umat Rasulullah Muhammad Saw, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah/2: 183.
Lalu apa keistimewaan ibadah puasa tersebut?
Beberapa keistimewaan ibadah puasa antara lain adalah: sebagai media yang mengantar manusia dimasukkan ke dalam surga; ibadah yang dibalas langsung oleh Allah SWT; do’a orang yang berpuasa saat berbuka diijabah langsung oleh Allah; orang berpuasa akan sehat wal afiat, dan lain-lain.
Nah, mengapa demikian banyak keistimewaan yang dimiliki ibadah ini? Oleh karena ibadah puasa akan membentuk spiritual manusia taqwa kepada Allah SWT. (la’allakum tattaqun; inna akramakum ‘indallah atqakum; wa mayattaqillah yaj’al lahu makhraja, wayarzukhu min haitsu la yahtasib). Karenanya, panggilan untuk menunaikan ibadah puasa ini hanya ditujukan kepada orang-orang yang beriman kepada Allah SWT.
Spiritual adalah keterhubungan seseorang dengan sesuatu yang lebih besar, lebih agung, lebih kuasa, yaitu Allah SWT sehingga dia dapat memaknai hidup lebih berarti, kedamaian batin, dan tujuan hidup keselamatan dunia dan akhirat. Spiritualitas adalah kesadaran ruhani berhubungan dengan Yang Maha Besar Allah SWT, merasakan nikmatnya ibadah, menemukan makna hidup dan keindahan, membangun keharmonisan dan keselarasan alam semesta, menangkap signal dan pesan di balik fakta, menemukan pemahaman yang universal, dan berhubungan dengan hal yang tak kasat mata. QS. Al-Baqarah/2: 28 (Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia akan mematikan kamu, Dia akan menghidupkan kamu kembali, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan?)
Ibadah puasa sebagai ibadah spiritual adalah puasa yang dijalankan dengan kesadaran batin hubungan dengan Sang Maha Kuasa Allah SWT yang dapat menikmatinya sebagai keharmonisan dan keselarasan ketetapan Tuhan. Puasa tidak hanya sekadar menahan lapar, dahaga, dan kebutuhan nafsu lainnya, namun puasa yang terbangun dari nilai kesabaran mengimplementasikan kepatuhannya dalam meninggalkan larangan Allah dan menunaikan perintahNya. Puasa yang menumbuhkan akhlakul karimah, menguatkan keikhlasan dan menguatkan pendekatan diri kepada Allah SWT.
2 Langkah Puasa Spiritualistik
1. Murnikan Niat kepada Allah SWT
Niat adalah pekerjaan hati/qalbu. Niat tidak tampak, tetapi sangat berpengaruh dan tergambar dari perilaku/ucapan pemilik niat. Niat pula yang membedakan kedudukan suatu perbuatan atau ucapan. Apakah perbuatan seseorang adalah ibadah atau kebiasaan belaka, atau ikutan kepada orang lain? Hal itu tergantung dengan niatnya. (Innamal a’malu binniyat …)
Ibadah puasa yang kita lakukan ini hendaknya diawali dengan niat yang tulus ikhlas kepada Allah SWT, Pemberi syari’at. Kita berpuasa karena perintah Allah SWT, kita hanya berharap balasan dari Allah SWT, serta kita memohon pertolongan dan kebaikan, meminta perlindungan hanya kepada Allah SWT. (Inna anzalna ilaikal kitaba bilhaqqi fa’budillah mukhlisan lahuddin).
2. Hindarkan diri dari segala sesuatu yang dapat menghancurkan ibadah puasa (makan, minum, berkata buruk dan sia-sia), serta mengisi jiwa dengan aktivitas amal shaleh
Menunaikan ibadah puasa tidak sekadar tidak makan-minum dan hubungan seksual suami-istri, tetapi juga menahan diri dari perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapan dosa bahkan yang sia-sia. Sebaliknya, orang yang berpuasa Ramadhan ini terbuka luas pintu kebaikan baginya. Kebaikan apa saja yang mampu dilakukannya (zikir, baca Qur’an, sedekah) bernilai besar di sisi Allah. Melakukan ibadah sunnah di bulan Ramadhan ini pahalanya sama dengan melakukan ibadah fardu di luar Ramadhan, melakukan ibadah fardu sama dengan melakukan 70 kali ibadah fardu.
Dengan demikian, ibadah puasa yang dilandasi dengan niat yang ikhlas kepada Allah, lalu dirawat dan dijaga dari hal-hal yang dapat merusak puasa, serta menghiasinya dengan zikir, sedekah, dan amal shaleh lainnya, maka akan melahirkan puasa yang mengantarkan kepada ketakwaan kepada Allah SWT.(*)