Sejuk Di Tengah Riuh Kota: Sup Buah Bu Wajar, Manisnya Bertahan 20 Tahun Di Mantrijeron

Sejuk di Tengah Riuh Kota: Sup Buah Bu Wajar, Manisnya Bertahan 20 Tahun di Mantrijeron

YOGYAKARTA,  GOWAMEDIA.COM -Jalan Mayjen D. I. Panjaitan, kawasan Mantrijeron, deretan kuliner kaki lima berbaris menggoda selera. Dari jajanan gorengan hingga minuman kekinian, semuanya seperti berlomba memikat lidah. Namun, ada satu yang terasa tak boleh dilewatkan: warung sup buah sederhana di sudut jalan masuk menuju .

Warung itu berdiri tak jauh dari laboratorium kampus, persis di depan rumah besar bercat putih yang menjadi penanda paling mudah dikenali. Sebuah gerobak kecil, tenda sederhana, serta beberapa kursi plastik dan kayu menjadi “restoran” mungil tempat orang-orang melepas dahaga. Di sanalah Bu Wajar bertahan, meracik manisnya buah selama kurang lebih 20 tahun.

Di pinggir jalan yang ritme lalu lintasnya nyaris tak pernah sepi, suasana di warung ini justru terasa adem. Mungkin karena potongan buah segar yang tersaji warna-warni di etalase kaca, atau mungkin karena senyum ramah sang penjual yang tak pernah absen menyambut pembeli.

Sup buah di sini dibanderol Rp 8.000 per porsi. Isinya bukan sekadar polesan agar-agar atau dominasi pepaya murah meriah. Dalam satu mangkuk, potongan apel, nanas, melon, semangka, buah naga, pisang, hingga alpukat bercampur dalam siraman susu dan sirup yang pas. Segar, legit, dan jujur pada rasa buahnya.

Selain sup buah, Bu Wajar juga menyajikan jus alpukat yang kental, jus jambu biji yang menyegarkan, serta jus buah naga dengan warna merah menggoda. Semua diracik langsung di tempat, tanpa banyak basa-basi.

Bu Wajar bercerita, dua dekade lalu ia memberanikan diri meminta izin kepada pemilik rumah bercat putih itu agar diizinkan berjualan di sudut halamannya. Izin diberikan. Sejak saat itu, gerobak kecilnya menjadi bagian dari denyut harian kawasan tersebut.

“Alhamdulillah, aman-aman saja selama ini. Tidak ada yang ganggu,” tuturnya.

Setiap kali hendak menutup lapak, ia memastikan semuanya rapi. Gerobak didorong tak jauh dari lokasi jualan, tenda dilipat, dan sampah tak boleh mengendap. “Harus bersih, tidak boleh ada sisa-sisa buah atau plastik minuman,” ujarnya tegas. Prinsip sederhana, namun konsisten dijalankan selama 20 tahun.

Untuk listrik, ia menyambung dari rumah warga terdekat dengan biaya Rp 70 ribu per bulan. Sementara retribusi dari pemerintah, ia mengaku tidak ada pungutan. Baginya, itu sudah sangat membantu keberlangsungan usaha kecilnya.

Saat sore mulai turun, pembeli berdatangan. Ada yang memesan lima porsi sekaligus untuk dinikmati bersama. Ada pula yang memilih dibungkus untuk dibawa pulang. Tangan Bu Wajar bergerak cekatan, memotong buah dengan ritme yang terlatih oleh waktu. Sang suami setia mendampingi, membantu menyiapkan pesanan.

Dua puluh tahun membuatnya tak merasa perlu merekrut karyawan. “Hasilnya tidak menentu. Kadang sepi, kadang ramai,” katanya jujur. Namun baginya, yang penting usaha tetap berjalan dan pelanggan kembali.

Filosofinya sederhana: ia hanya menjual apa yang ia sendiri suka. “Kalau mau untung banyak, bisa saja isi es buah cuma pepaya dan nanas. Tapi saya maunya yang saya jual itu enak. Biar untung sedikit, yang penting orang senang dan balik lagi,” ucapnya sambil tersenyum.

Menjelang Ramadan, ritme dagangannya menyesuaikan. Ia mulai berjualan pukul 15.00 WIB hingga waktu berbuka puasa tiba. Sup buah menjadi salah satu takjil favorit warga sekitar—ringan, segar, dan mengenyangkan.

Di tengah gempuran minuman kekinian dan kafe modern, gerobak kecil Bu Wajar tetap bertahan. Bukan karena kemewahan tempatnya, melainkan karena konsistensi rasa dan kejujuran dalam berdagang.

“Matur nuwun sudah icip-icip,” katanya setiap kali pembeli pamit.

Dan dari sudut sederhana di Mantrijeron itu, manisnya buah dan ketekunan hidup menyatu dalam satu mangkuk sup yang tak sekadar menyegarkan tenggorokan, tapi juga hati.(*)