Pesan Menteri Agama: Tolong Buka Pintu Masjid

Pesan Menteri Agama: Tolong Buka Pintu Masjid

MAKASSAR, GOWAMEDIA.COM — Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar mengingatkan para pengurus masjid agar membuka pintu masjid selebar-lebarnya bagi masyarakat yang membutuhkan. Menurutnya, masjid harus hadir sebagai pusat ibadah sekaligus ruang kemanusiaan yang inklusif.

Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin Umar saat menghadiri penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pimpinan Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam di Aula Kantor Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Senin (9/2/2026) siang.

Alumni Fakultas Syariah UIN Alauddin Makassar itu menekankan, fungsi masjid tidak boleh dibatasi hanya sebagai tempat pelaksanaan ritual ibadah. Terlebih menjelang bulan Ramadan, masjid diharapkan mampu menjawab kebutuhan sosial masyarakat.

“Terutama dalam bulan Ramadan nanti, masjid dapat dijadikan posko istirahat bagi pemudik. Ada yang mau buang hajat, ada ibu-ibu yang ingin menyusukan bayinya, ada sopir yang mengantuk. Masjid bisa menjadi tempat istirahat,” ujar Nasaruddin.

Ia menjelaskan konsep Masjid sebagai Jantung Umat harus dimaknai secara utuh. Masjid bukan hanya simbol spiritual, tetapi juga wadah perekat dan persatuan umat, sekaligus ruang aktivitas sosial-keagamaan.

Menurut Nasaruddin, masjid juga memiliki peran strategis sebagai sarana pendidikan yang komprehensif untuk mendorong kemajuan umat.

Dalam kesempatan tersebut, Menag turut menyinggung minimnya fasilitas ibadah di pusat-pusat ekonomi. Ia mengimbau para pemilik pusat perbelanjaan untuk menyediakan masjid atau musala yang layak dan memadai.

“Jangan mal besar tapi musalanya sangat kecil. Jangan kita hanya mengejar materi, tapi fasilitas ibadah minim. Alangkah nikmatnya bila kita menyiapkan fasilitas ibadah yang luas, nyaman, dan ramah,” kata Imam Besar Masjid Istiqlal itu.

Berdasarkan data Sistem Informasi Masjid (Simas) Kementerian Agama, jumlah masjid dan musala di Indonesia mencapai sekitar 744 ribu hingga 811 ribu unit pada 2025. Jumlah tersebut, kata Nasaruddin, harus diiringi dengan penguatan fungsi sosial masjid yang dapat dirasakan seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang agama.

“Kalau ada orang haus atau lapar, jangan lihat agamanya. Ada orang hanyut dan meninggal lalu tidak kita tolong dan urus, maka satu desa di wilayah itu akan berdosa semua,” tegasnya.

Lebih lanjut, Nasaruddin menyampaikan, indeks kerukunan umat beragama di Indonesia terus menunjukkan peningkatan. Kunci utamanya adalah pemahaman beragama yang berlandaskan cinta kasih dan kemanusiaan.

“Beragama itu mencintai sesama manusia sekalipun berbeda agama. Jangan terlalu mudah mengkafirkan. Kalau kita mengajarkan kebencian, berarti kita tidak menyebarkan agama,” pesannya.

Kegiatan penandatanganan MoU ini diawali pengantar dari Kepala Kanwil Kemenag Sulsel Dr. H. Ali Yafid dan pimpinan wilayah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sulsel Andi Muhammad Bau Sawa Mappanyukki. Sejumlah Ormas Islam yang menandatangani MoU antara lain Majelis Ulama Indonesia (MUI), DMI, Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), dan Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi).

Turut menandatangani Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM), Wahdah Islamiyah, serta ormas Islam lainnya.

Kehadiran Ketua Pimpinan Wilayah Parmusi Sulawesi Selatan, Dr. Abubakar Wasahua, SH, MH, dalam penandatanganan MoU ini dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkuat sinergi keumatan di Sulawesi Selatan. Momentum tersebut menegaskan komitmen Parmusi dalam menjaga harmoni kehidupan beragama, meneguhkan nilai persaudaraan, moderasi, serta persatuan bangsa.

Acara ini juga dihadiri lima pemimpin agama lintas iman, yakni perwakilan agama Kristen, Hindu, Buddha, aliran kepercayaan, serta Sekretaris Jenderal Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi). (*)