Hikmah Ramadan 1447/2026: "Ramadan Bulan Mulia Dari Awal Hingga Akhir"

Hikmah Ramadan 1447/2026:

BONTOBONTOA, GOWAMEDIA.COM – Suasana hangat dan penuh antusiasme menyelimuti Masjid Nurul Yusuf pada Kamis (19/2/2026) malam. Memasuki malam kedua Ramadan 1447 H, jemaah memadati masjid untuk salat tarawih dan mendengarkan tausiyah Drs H Abdullah Situju yang mengangkat tema "Keutamaan Bulan Ramadan.  

Jemaah memenuhi saf-saf tarawih, sementara gerimis yang sempat mengguyur kawasan itu tak menyurutkan langkah warga untuk beribadah.

Dalam tausiyahnya, Ustad Drs H Abdullah Situju mengawali dengan rasa syukur. “Alhamdulillah, pada malam kedua ini kita masih diberi kesempatan beribadah kepada Allah SWT. Mari kita perbanyak salawat kepada Rasulullah SAW,” ujarnya.

Ramadan: Anugerah yang Tidak Semua Umat Miliki

Abdullah mengingatkan, Ramadan adalah bulan yang hanya datang sekali dalam setahun. Tidak semua orang yang tahun lalu berjumpa Ramadan, tahun ini kembali merasakannya.

“Kita umat Nabi Muhammad masih dipertemukan dengan Ramadan. Banyak kawan, keluarga, dan kerabat kita yang sudah tidak lagi bersama kita,” katanya.

Ia menegaskan, kegembiraan menyambut Ramadan adalah ciri hati yang hidup. Dalam sejumlah riwayat populer disebutkan:

“Man fariha bidukhuli Ramadhana harramallahu jasadahu ‘alan nar.”

Barang siapa bergembira dengan datangnya Ramadan, Allah haramkan jasadnya dari api neraka.

Meski para ulama berbeda pendapat tentang derajat riwayat tersebut, Abdullah menjelaskan bahwa substansinya dikuatkan oleh hadis-hadis sahih tentang keutamaan Ramadan.

Di antaranya hadis riwayat , Rasulullah SAW bersabda:

“Man shama Ramadhana imanan wahtisaban ghufira lahu ma taqaddama min dzambih.”

Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain yang juga dari Abu Hurairah, Nabi bersabda:

“Apabila datang Ramadan, dibukakan pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Jika umatku mengetahui kemuliaan Ramadan, niscaya mereka ingin seluruh bulan menjadi Ramadan,” lanjut Abdullah, mengutip riwayat yang masyhur di kalangan ulama tentang betapa agungnya bulan ini.

Konsistensi Memakmurkan Masjid

Menurut Abdullah, salah satu indikator derajat takwa adalah konsistensi memakmurkan masjid sejak awal hingga akhir Ramadan.

“Kalau dari awal sampai akhir Masjid Nurul Yusuf penuh jemaah, itu tanda semangat takwa kita terjaga. Hujan bukan alasan bagi orang beriman,” tegasnya.

Ia mengibaratkan Ramadan seperti perlombaan. Pada awalnya peserta membludak, tetapi semakin mendekati garis akhir—sepuluh malam terakhir—jumlahnya sering menyusut. Padahal justru pada fase itulah terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Puasa dan Tarawih: Paket Ibadah Ramadan

Abdullah menekankan bahwa kemuliaan Ramadan berlangsung dari awal hingga akhir. Salah satu kekhususannya adalah salat tarawih yang tidak dijumpai di bulan lain.

“Ada yang puasa tapi tidak tarawih. Ada juga yang tarawih tapi tidak puasa. Kalau kita berpuasa sebulan penuh, maka tarawih pun seharusnya kita jaga sebulan penuh,” ujarnya.

Ia mengingatkan hadis Nabi:

“Barang siapa menegakkan (qiyam) Ramadan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain puasa dan tarawih, ia mendorong jemaah memperbanyak amalan lain, seperti memberi makan orang berbuka puasa. Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)

Jangan Jadi Umat yang Merugi

Dalam penutupnya, Abdullah mengingatkan ketika Nabi naik mimbar dan mengucap “Amin” tiga kali, salah satunya karena doa Malaikat Jibril:

“Celakalah seseorang yang mendapati Ramadan namun tidak diampuni dosanya.” (HR. Ahmad dan lainnya)

“Merugi umat Muhammad yang bertemu Ramadan tapi tidak masuk surga,” tegas Abdullah.

Ia kemudian mengurai rukun dan substansi puasa: dimulai dari niat, serta menjaga kualitasnya dengan meninggalkan dusta dan perkataan sia-sia. Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh pada puasanya yang hanya meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari)

Tausiyah itu ditutup dengan meminta jemaah berdoa agar diberi kesehatan dan kekuatan untuk menyempurnakan ibadah Ramadan hingga akhir. Harapannya sederhana namun mendalam: Masjid Nurul Yusuf tetap penuh, hati tetap gembira, dan Ramadan benar-benar menjadi jalan menuju ampunan dan surga. (*)