Renungan Ramadan: Tiga Golongan Menyikapi Ramadan

MASJID AGUNG, GOWAMEDIA.COM - Mari kita renungkan bersama, tiga golongan menyikapi Ramadan, terutama setelah menjalani puasa 28 hari lamanya dan Ramadan segera berlalu. Ini adalah intisari ceramah subuh di Masjid Agung pada 29 Ramadan 1446 H, Sabtu, 29 Maret 2025.
Ketika hari-hari dan malam-malam terakhir Ramadan tiba, bumi, langit, dan para malaikat menangis. Mereka bersedih karena bulan yang penuh berkah, ampunan, dan rahmat akan segera berlalu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menangis ketika Ramadan berakhir.
Para sahabat bertanya kepada beliau, "Wahai Rasulullah, apakah engkau menangis karena suatu musibah?" Rasulullah menjawab bahwa musibah yang dimaksud adalah perginya Ramadan, bulan yang di dalamnya Allah mengampuni dosa-dosa hamba-Nya, memberikan jaminan surga melalui pintu Babul Rayyan yang khusus bagi orang yang berpuasa, serta membebaskan banyak hamba dari siksa neraka.
Ramadan adalah bulan yang lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana firman Allah:
"Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. Al-Qadr: 3)
Di bulan ini, amal ibadah dilipatgandakan pahalanya hingga 70 kali lipat dibanding di luar Ramadan. Doa-doa diijabah, dosa-dosa diampuni, dan peluang mendapatkan keberkahan sangat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Barang siapa yang berpuasa Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari & Muslim).
Lalu bagaimana sikap kaum Muslimin setelah Ramadan berlalu? Mereka terbagi menjadi tiga kelompok:
1. Kelompok yang Istiqamah dalam Ibadah
Kelompok pertama adalah mereka yang sebelum Ramadan telah kuat dalam beribadah, dan di bulan Ramadan semakin meningkatkannya. Mereka rajin berpuasa, melaksanakan salat malam, bersedekah, serta memperbanyak membaca Al-Qur’an. Orang-orang seperti ini adalah kaum yang bermutu, yang mendapatkan keberuntungan di dunia dan akhirat, sebagaimana firman Allah:
"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal)." (QS. Al-Hijr: 99).
Allah juga berfirman:
"Sesungguhnya ayat-ayat-Ku selalu dibacakan kepada mereka, tetapi mereka selalu berpaling darinya." (QS. Al-Mu’minun: 66).
Mereka adalah orang-orang yang benar-benar mendapatkan ketakwaan, sesuai dengan tujuan utama Ramadan: "Agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183).
2. Kelompok yang Menurun Ibadahnya Setelah Ramadan
Kelompok kedua adalah mereka yang semangat beribadah di bulan Ramadan, tetapi setelahnya kembali lalai dan meninggalkan amal saleh. Allah mengumpamakan mereka dalam Al-Qur’an:
"Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali..." (QS. An-Nahl: 92).
Orang-orang ini seperti pedagang yang telah mengumpulkan keuntungan selama sebulan, tetapi kemudian membuangnya begitu saja setelah Ramadan pergi. Sungguh merugi mereka yang demikian, karena telah meninggalkan kebiasaan baik yang telah diraih selama bulan suci.
3. Kelompok yang Tidak Berubah
Kelompok ketiga adalah mereka yang sebelum, selama, dan setelah Ramadan tetap sama, tanpa ada peningkatan iman dan amal. Bahkan, mereka menganggap Ramadan sebagai beban. Allah menggambarkan mereka dalam firman-Nya:
"Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS. Al-A’raf: 179).
Ramadan adalah anugerah besar dari Allah yang harus kita syukuri. Orang yang benar-benar mendapatkan manfaat dari Ramadan adalah mereka yang tetap menjaga semangat ibadah setelahnya.
Sebaliknya, orang yang meninggalkan kebiasaan baiknya setelah Ramadan adalah orang yang merugi. Semoga kita semua termasuk dalam golongan pertama, yang terus menjaga ketakwaan dan meningkatkan ibadah hingga akhir hayat. Aamiin.(*)