Renungan Ramadan: Menjaga Ukhuwah Islamiyah

Renungan Ramadan:
Menjaga Ukhuwah Islamiyah


PAOPAO, GOWAMEDIA.COM - Ustad Jamaluddin Daeng Siala menyampaikan ceramah tarwih pada malam ke-24 Ramadan 1446 H, Ahad, 23 Maret 2025 di  Masjid Imamul Muttaqin, Pao-Pao, Gowa dengan menjadikan ukhuwah sebagai bahan renungan kita semua.

Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan yang mempererat persaudaraan kita. Setiap malam, kita shalat berjamaah, saling menyapa, dan merasakan kehangatan ukhuwah Islamiyah. Inilah salah satu keindahan Ramadan yang sulit ditemukan di bulan lain.

Namun, pertanyaannya adalah: bisakah kita mempertahankan suasana ini setelah Ramadan berlalu?

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

"Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10)

Ayat ini menegaskan bahwa persaudaraan adalah bagian dari iman. Jika ada saudara kita yang berselisih, kita wajib membantu mendamaikan mereka. Bahkan, dalam Islam, seseorang dibolehkan untuk mengatakan sesuatu yang tidak sepenuhnya benar jika tujuannya adalah untuk mendamaikan.

Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling baik akhlaknya, yang lembut dan memudahkan urusan." (HR. Ahmad)

Sikap lembut dalam berbicara, tidak mudah marah, dan selalu berusaha menyebarkan kebaikan adalah bagian dari akhlak yang mulia. Jika kita ingin diperlakukan dengan baik oleh orang lain, maka kita harus lebih dulu berbuat baik kepada mereka.

Sebaliknya, ada sifat yang sangat dibenci oleh Allah, yaitu menebar fitnah dan mengadu domba. Di era media sosial ini, banyak orang dengan mudah menyebarkan berita tanpa memastikan kebenarannya (hoax). Hal ini bisa menimbulkan perpecahan di antara kaum muslimin. Allah SWT memperingatkan dalam Al-Qur’an:

"Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela." (QS. Al-Humazah: 1)

Rasulullah SAW juga mengingatkan:

"Orang beriman itu seperti satu tubuh." (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika satu bagian tubuh sakit, maka bagian lainnya ikut merasakan. Begitu pula dengan ukhuwah islamiyah—jika ada saudara kita yang mengalami kesulitan, kita harus peduli dan membantu.

Di akhirat nanti, orang-orang yang saling mencintai karena Allah akan dikumpulkan bersama. Suatu hari, seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW:

"Kapan terjadi kiamat?"

Rasulullah bertanya kembali:

"Apa yang telah kamu persiapkan?"

Orang itu menjawab:

"Aku tidak memiliki banyak amalan, tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya."

Maka Rasulullah SAW bersabda:

"Engkau akan bersama dengan orang yang kau cintai." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memberikan kabar gembira bahwa kelak di akhirat, kita akan dikumpulkan bersama dengan orang-orang yang kita cintai karena Allah. Oleh karena itu, mari kita perkuat cinta kita kepada Allah, Rasulullah, dan saudara-saudara kita sesama muslim agar kita bisa bersama mereka di surga-Nya.

Di bulan Ramadan ini, ukhuwah islamiyah terasa begitu kuat. Setiap malam kita berkumpul di masjid, bersujud bersama, dan merasakan kehangatan persaudaraan. Tapi apakah kita akan menjaga kebersamaan ini setelah Ramadan?

Mari kita jadikan Ramadan sebagai titik awal untuk memperkuat ukhuwah. Mulai dari hal kecil seperti menyebarkan salam dengan lengkap—bukan hanya "assalam…" atau "kum…" tetapi "Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh."

Dengan salam yang penuh, kita mendoakan kebaikan untuk sesama. Dengan akhlak yang lembut, kita menjaga persatuan. Dan dengan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, kita berharap bisa bersama di surga kelak.

Semoga Allah menerima amal ibadah kita di Ramadan ini dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang selalu menjaga ukhuwah islamiyah. Aamiin, ya Rabbal ‘alamin. (*)