Renungan Ramadan: Menghindarkan Diri Dari Kesombongan

MASJID AGUNG, GOWAMEDIA.COM - Renungan kita hari ini adalah refleksi dari ceramah subuh 22 Ramadan 1446 H, bertepatan 22 Maret 2025, di Masjid Agung Syekh Yusuf, Gowa yang disampaikan Dr. Fatmawati Hilal. Dosen Fakultas Syariaf UIN Alauddin yang telah lulus kompetensi sebagai Guru Besar bidang Fiqih Siyasah ini, membahas tentang pentingnya selalu bermuhasabah (menakar/introspeksi diri) agar terhindar dari sifat sombong, sekecil apapun itu.
Jemaah yang dirahmati Allah, subuh ini kita akan membahas salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya, yaitu kesombongan (takabur). Kesombongan bukan hanya merusak hubungan dengan sesama manusia, tetapi juga bisa menjadi penghalang utama masuknya rahmat Allah.
Kita bisa melihat contoh kesombongan makhluk Allah dalam kisah Iblis. Ketika Allah memerintahkannya untuk bersujud kepada Adam, ia menolak dan berkata:
"Wahai Iblis, apa yang menghalangimu untuk bersujud kepada Adam yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah (memang) termasuk golongan yang (lebih) tinggi." (QS. Shad: 75)
Iblis dengan congkaknya menjawab bahwa dirinya lebih baik dari Adam karena diciptakan dari api, sedangkan Adam dari tanah (QS. Shad: 76). Kesombongan inilah yang menyebabkan Iblis terkutuk dan diusir dari rahmat Allah.
Di sini kita melihat bahwa kesombongan adalah sifat pertama yang membuat makhluk berpaling dari perintah Allah. Iblis bukan tidak tahu kekuasaan Allah, tetapi kesombongan menutup hatinya dari ketaatan. Akibatnya, Iblis dikutuk dan dijauhkan dari rahmat Allah selama-lamanya.
Bagaimana dengan manusia yang masih memiliki sifat sombong?
Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi." (HR. Muslim)
Allah SWT dengan tegas menyatakan dalam Alqur'an:
"Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri." (QS. An-Nisa: 36)
Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:
"Kemuliaan adalah pakaian-Ku dan kesombongan adalah selendang-Ku. Barang siapa yang menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, maka Aku akan melemparkannya ke dalam neraka."
Kesombongan adalah penyakit hati yang sangat berbahaya, yang bisa merusak amal, merusak hubungan sosial, dan menjerumuskan seseorang ke dalam kebinasaan.
Imam Al-Ghazali, dalam karyanya Ihya Ulumuddin, memberikan perhatian khusus terhadap bahaya kesombongan (kibr). Beliau mengidentifikasi beberapa sumber kesombongan, antara lain:
- Ilmu Pengetahuan: Orang yang berilmu mungkin merasa lebih tinggi dari yang lain. Orang yang berilmu tetapi merasa lebih pintar dari yang lain, meremehkan orang yang dianggap kurang berpendidikan.
- Padahal ilmu seharusnya membuat seseorang lebih rendah hati.
- Amal Saleh: Merasa bangga dengan ibadah dan amal kebaikan yang dilakukan, sehingga meremehkan orang lain. Orang yang merasa ibadahnya lebih banyak, lebih khusyuk, sehingga merendahkan orang lain yang dianggap kurang taat.
- Keturunan atau Nasab: Menganggap diri lebih mulia karena garis keturunan atau keluarga. Merasa lebih mulia karena berasal dari keluarga atau suku tertentu.
- Harta Kekayaan: Kekayaan materi dapat membuat seseorang memandang rendah mereka yang kurang beruntung.
- Pangkat dan Jabatan: Kedudukan sosial atau posisi dapat menimbulkan rasa superioritas. Merasa dirinya lebih tinggi karena memiliki kedudukan duniawi.
- Kesombongan karena golongan atau banyaknya pengikut. Merasa lebih benar hanya karena memiliki lebih banyak pendukung.
Al-Ghazali menekankan bahwa kesombongan adalah penyakit hati yang berbahaya dan dapat menghancurkan amal kebaikan. Beliau menasihati agar kita selalu introspeksi diri dan berusaha menghilangkan sifat sombong dengan mengingat bahwa semua yang kita miliki adalah karunia Allah dan bisa diambil kapan saja.
Jemaah sekalian, jika orang pintar bisa sombong, maka itu masih bisa dipahami—meskipun tetap salah. Tapi bagaimana jika orang bodoh sombong? Lebih parah lagi, ada juga sudah miskin, tetapi tetap sombong. Kesombongan bukanlah kehebatan, melainkan tanda lemahnya iman dan akhlak.
Ketahuilah, kesombongan dapat menghancurkan amal ibadah kita. Jangan sampai setelah kita beribadah sepanjang Ramadan, ada perasaan ujub (bangga diri) yang merusak nilai ibadah kita. Karena itu, marilah kita memperbanyak istighfar di akhir Ramadan ini.
Sebagaimana Abu Nawas pernah mengungkapkan dalam syairnya yang penuh makna:
"Tuhanku, aku bukanlah penghuni surga, dan aku pun tak pantas masuk ke dalamnya.
Tapi aku juga tak sanggup menahan pedihnya neraka-Mu.
Maka, ampunilah aku, wahai Tuhan, karena Engkau adalah Yang Maha Pengampun segala dosa."
Semoga kita semua dijauhkan dari kesombongan dan diberikan hati yang rendah hati serta ikhlas dalam beribadah kepada Allah SWT. Wallahu a‘lam bish-shawab. (*)