Renungan Ramadan: Kehidupan Sejati Setelah Kematian

Renungan Ramadan:
Kehidupan Sejati Setelah Kematian


BONTO-BONTOA, GOWAMEDIA.COM - Ceramah Tarwih malam ke-13 Ramadan,  Rabu, 12 Maret 2025 di Masjid Baiturrahim Bonto Bontoa, Gowa. Disampaikan oleh Ustad Drs. Muhammad Ridwan Abdullah.

Malam ini kita masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk berdiri, rukuk, sujud, dan duduk dalam salat tarawih. Namun, siapa yang bisa menjamin bahwa tahun depan kita masih akan berdiri di tempat ini? Tahun lalu, ada saudara-saudara kita yang bersama kita melaksanakan taralwih, tetapi kini mereka telah tiada. Begitulah kehidupan, selalu berubah, selalu berganti.

Banyak orang masih meragukan adanya kehidupan setelah mati. Mereka mengira bahwa kematian adalah akhir dari segalanya. Padahal, Islam menegaskan bahwa kehidupan sejati justru dimulai setelah kita meninggalkan dunia ini.

Allah SWT telah memberikan banyak tanda tentang kehidupan setelah mati. Dalam Al-Qur’an, Allah mengabadikan kisah Nabi Ibrahim yang bertanya kepada-Nya tentang bagaimana Dia menghidupkan kembali yang telah mati:

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, 'Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan yang telah mati.' Allah berfirman, 'Apakah engkau belum percaya?' Ibrahim menjawab, 'Aku telah percaya, tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).' Allah berfirman, 'Kalau begitu ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah mereka, dan letakkan di atas tiap-tiap bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan segera.' Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Baqarah: 260)

Ayat ini menegaskan bahwa Allah mampu menghidupkan kembali yang telah mati, sebagaimana Dia menghidupkan kembali burung-burung yang telah dicincang oleh Nabi Ibrahim. Ini menjadi bukti bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan awal dari kehidupan yang hakiki.

Kematian hanyalah perpindahan dari dunia fana ke alam yang lebih abadi. Sebagaimana tubuh manusia terdiri dari empat unsur—tanah, air, angin, dan api—kehidupan juga memiliki siklusnya sendiri:

Berdiri, rukuk, sujud, duduk – Siklus gerakan dalam salat mencerminkan perjalanan hidup manusia. Kita lahir (berdiri), bertumbuh (rukuk), mengalami puncak kehidupan (sujud), lalu akhirnya menua dan kembali kepada Allah (duduk tasyahhud).

Namun, meskipun kematian adalah kepastian, banyak orang masih tidak percaya akan kehidupan setelahnya. Iman manusia bertingkat-tingkat, sebagaimana yang terjadi di zaman Nabi Ibrahim. Ada yang percaya penuh, ada yang ragu-ragu, dan ada yang menolak.

Salat sebagai Kunci

Dalam hadis disebutkan bahwa amalan pertama yang akan diperiksa setelah kita mati adalah salat kita. Rasulullah SAW bersabda:

"Amal seorang hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah salatnya. Jika salatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya. Jika shalatnya buruk, maka buruk pula seluruh amalnya." (HR. At-Tirmidzi).

Sebanyak apa pun harta yang kita kumpulkan, setinggi apa pun jabatan kita, semuanya tidak berarti jika salat kita diabaikan. Bahkan jika kita rajin beribadah, tetapi masih memusuhi dan menyakiti orang lain, ibadah kita menjadi sia-sia.

Kita sering tertipu dengan kehidupan dunia. Kita mengejar kekayaan, jabatan, dan popularitas, seolah-olah itulah tujuan hidup. Padahal, semua itu hanyalah ilusi. Kehidupan dunia hanyalah bayangan, sementara kehidupan sejati adalah setelah kita mati.

Allah berfirman:
"Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS. Al-Hadid: 20)

Maka, jika kita menyadari bahwa kehidupan sejati adalah setelah mati, kita harus selalu berdoa agar Allah menyelamatkan kita dari kesia-siaan dunia. Salah satu doa yang diajarkan dalam Islam adalah Shalawat Ibrahimiyah:

"Ya Rabbi, sallimna."
(Ya Allah, selamatkanlah kami.)

Mari kita biasakan membaca shalawat ini setiap kali hendak melakukan sesuatu, agar setiap langkah kita selalu dalam lindungan-Nya.

Hadirin sekalian, hidup di dunia hanyalah sementara. Mari kita persiapkan diri untuk kehidupan yang lebih abadi. Perbaikilah salat kita, perbanyaklah amal kebaikan, dan jangan sampai kita tertipu oleh dunia yang fana ini.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang beriman kepada kehidupan setelah mati, menjaga salat kita, dan selalu dalam lindungan-Nya. Ya Rabbi, sallimna.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.