Renungan Ramadan: Hakikat Diri: Cahaya Ilahi

Renungan Ramadan:
Hakikat Diri: Cahaya Ilahi


AL-MARKAZ AL-ISLAMI, GOWAMEDIA.COM - Berbeda dengan momen dan sumber renungan Ramadan sebelumnya. Kali ini kita mendapatkan tausiah muhasabah dari Dr. H. Dimas Mariono, pada i’tikaf malam 23 Ramadan 1446 H, Sabtu, 22 Maret 2025 di Masjid Al-Markaz Al-Islami. 

Ketika muhasabah berlangsung, seluruh Jemaah mendengarkan dengan khusyuk dalam suasana gelap. Hanya suara Ustad Dimas yang terdengar dalam hening sepertiga malam.

Ustad Dimas Mariono membuka muhasabah dengan mengingatkan sesuatu yang selama ini banyak lupa bahwa manusia bukanlah penduduk asli bumi. Yang benar-benar menjadi penghuni asli adalah tumbuh-tumbuhan dan binatang. Mereka tidak perlu beradaptasi untuk bertahan hidup. 

Lihatlah anak ayam yang baru menetas, ia langsung bisa berjalan. Anak kambing yang baru lahir segera berdiri dan berlari. Sementara manusia, butuh waktu berbulan-bulan untuk belajar berjalan.

Lalu dari mana asal kita sebenarnya? Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya:

"Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan kepada-Nya lah kita kembali." (QS. Al-Baqarah: 156)

Kita berasal dari Allah dan sedang menjalani perjalanan kembali kepada-Nya. Kehidupan di dunia ini ibarat perjalanan panjang, di mana kita sedang belajar berjalan menuju hakikat sejati: kembali kepada Allah. Inilah tawaf secara hakiki.

Tawaf dalam makna hakiki bukan hanya ritual mengelilingi Ka’bah, tetapi perjalanan kehidupan kita dari hari ke hari. Dari Ahad hingga Sabtu, dari lahir hingga wafat. 

Kalau kia bertanya, sampai kapan kita akan melakukan tawaf ini? Sampai saat kita dipanggil pulang oleh Allah. Bukankah kehidupan dunia ini hanya persinggahan semata?

Tanggal dan hari lahir sudah semakin jauh kita tinggalkan dan Waktu pulang semakin dekat. Waktu kepulangan kita kian dekat. Oleh karena itu, jangan bermain-main dengan kehidupan ini. Kain kafan kita sudah siap digunakan karena segala sesuatu sudah ditentukan waktunya. Terlalu sebentar hidup kita di dunia ini, maka mari kita renungi hidup kita ini.

Rasulullah SAW mengingatkan:

"Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau seorang musafir." (HR. Bukhari no. 6416)

Dunia ini hanyalah tempat persinggahan. Hidup di dunia bagaikan mimpi, ilusi, tidak nyata. Orang yang sedang salat terkadang tidak sadar bahwa ia sedang salat. Orang haji pun tidak sadar kalau dia haji. Itu mimpi, ilusi. 

Ini menunjukkan betapa fana dan ilusifnya kehidupan dunia. Dosa bisa terjadi dan dilakukan oleh siapa saja, termasuk ibu kita, ayah kita. 

Hakikat Diri

Sesungguhnya manusia bukanlah tubuhnya. Tubuh hanyalah ‘casing’, sedangkan hakikat diri yang sejati berada di baliknya. 

Rasulullah SAW mengingatkan:

"...Dan sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu." (HR. Bukhari & Muslim)

Namun, diri sejati kita tidak bergantung pada makanan fisik. Hakikat diri manusia adalah nur (cahaya), dan makanan bagi cahaya ini adalah zikir kepada Allah. 

Sebagaimana Allah SWT berfirman:

"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." (QS. Ar-Ra’d: 28)

Yang diseru oleh Allah untuk kembali kepada-Nya bukanlah jasad, melainkan ruhani kita. Sebab, manusia bukan disebut manusia karena tubuhnya, melainkan karena jiwanya. 

Allah SWT berfirman:

"Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya." (QS. Asy-Syams: 9)

Maka, puasa bukan hanya untuk menahan lapar dan haus, tetapi juga untuk memuaskan ruhani. 

Manusia diciptakan dari tanah, tetapi bukan sekadar makhluk fisik. Kita adalah makhluk ruhani yang mulia yang ditempatkan dalam tubuh. 

Allah SWT berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk." (QS. Al-Hijr: 26)

Maka, marilah kita renungi hakikat diri kita, perbanyak zikir, dan bersungguh-sungguh dalam perjalanan kembali kepada-Nya. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung. 

Di akhir muhasabahnya yang berlangsung pukul 01:30 Wita itu, Ustad Dimas meminta seluruh jemaah memejamkan mata, lalu menghadirkan sosok ibu masing-masing. "Ucapkan astagfirullah ketika sudah mengingat kembali kesalahan apa yang pernah diperbuat terhadap ibu kita." 

Suasana makin hening. Ribuan jemaah i'tikaf, laki-laki dan perempuan yang memenuhi ruang salat hingga lantai tiga Masjid Al-Markaz Al-Islami tenggelam dalam perenungannya masing-masing.(*)