Renungan Ramadan: Cobaan Dalam Beribadah

GUNUNGSARI, GOWAMEDIA.COM - Ceramah tarwih yang disampaikan Dr Syamsuddin AB pada 29 Ramadan 1446 H, Jumat, 28 Maret 2025, di Masjid Jami' Al Azhar Gunung Sari, Makassar, mengingatkan kembali kepada kita tentang berbagai cobaan dalam menjalankan ibadah. Mari kita renungkan agar bisa dilalui dengan baik.
Di penghujung Ramadan ini, marilah kita renungkan perjalanan ibadah kita selama sebulan penuh. Apakah kita sudah bersungguh-sungguh dalam menjalankannya? Apakah kita tetap istiqamah meskipun dihadapkan dengan berbagai cobaan? Sesungguhnya Allah telah mengingatkan dalam Al-Qur'an:
"Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)
Dari ayat ini, kita memahami bahwa ujian dalam ibadah adalah keniscayaan. Di antara cobaan yang Allah berikan dalam ibadah kita adalah sebagai berikut:
1. Rasa Takut
Salah satu bentuk ujian dalam ibadah adalah rasa takut. Ada ketakutan kehilangan orang-orang yang kita cintai, terutama orang tua. Banyak di antara kita yang merantau, jarang bertemu orang tua. Ketika akhirnya bisa berkumpul, ada kekhawatiran: bagaimana jika ini adalah Ramadan terakhir bersama mereka?
Sering kali, orang tua menyembunyikan kesulitannya demi anak-anaknya. Mereka enggan mengeluh meski dalam keadaan kekurangan. Mereka lebih memilih menanggung beban sendiri daripada membuat anak-anaknya khawatir. Maka, sebagai anak, janganlah kita abaikan mereka. Rasulullah SAW bersabda:
"Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua." (HR. Tirmidzi)
Di akhir Ramadan ini, jangan sampai kita lupa menghubungi orang tua, mendoakan mereka, atau jika memungkinkan, berbagi kebahagiaan dengan mereka. Ini adalah bagian dari bentuk bakti yang bisa menjadi jalan pembebasan kita dari api neraka.
2. Ujian Lapar
Puasa adalah ibadah yang Allah wajibkan kepada kita. Tidak ada alasan untuk meninggalkannya kecuali bagi mereka yang memiliki uzur syar'i. Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)
Ujian lapar dan dahaga selama berpuasa adalah pengingat bahwa kita hidup atas kehendak Allah. Ini juga kesempatan bagi kita untuk introspeksi diri.
Maka, jangan sia-siakan kesempatan ini. Bertobatlah sebelum terlambat, karena kita sudah berjanji kepada Allah sejak sebelum lahir untuk tunduk kepada-Nya.
3. Kekurangan Harta
Cobaan lain dalam beribadah adalah kekurangan harta. Namun, Islam mengajarkan bahwa dalam kondisi apa pun, kita tetap harus melaksanakan kewajiban, termasuk menunaikan zakat fitrah.
Ada sebagian orang yang masih ragu membayar zakat fitrah, padahal jumlahnya hanya setara dengan 4 liter beras. Zakat ini adalah bentuk penyucian diri dan penyempurna puasa kita. Rasulullah SAW bersabda:
"Zakat fitrah itu menyucikan orang yang berpuasa dari perkataan yang sia-sia dan kotor, serta memberi makan kepada orang miskin." (HR. Abu Daud)
Jangan sampai karena kesibukan dunia, kita melupakan kewajiban ini. Zakat fitrah adalah bagian dari ibadah Ramadan yang datang hanya setahun sekali. Jangan ragu untuk menunaikannya karena Allah telah menjanjikan keberkahan bagi orang yang bersedekah.
Cobaan dalam beribadah adalah bagian dari ujian keimanan kita. Rasa takut, lapar, dan kekurangan harta bukanlah alasan untuk lalai dalam menjalankan perintah-Nya. Sebaliknya, ini adalah kesempatan untuk memperkuat iman dan mendekatkan diri kepada Allah.
Semoga Allah memberi kita kesabaran dalam menjalankan ibadah Ramadan, menerima amal kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang dibebaskan dari api neraka. Aamiin. Wallahu a’lam bishawab.(*)