Parmusi Menyapa Tombolo Pao: Motivasinya Bekerja Dan Beramal

Parmusi Menyapa Tombolo Pao: Motivasinya Bekerja dan Beramal


BAGIAN (3-Selesai) 

TOMBOLO PAO, GOWAMEDIA.COM Selama dua hari, Jumat dan Sabtu 23-24 Januari 2026, pengurus Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) Sulawesi Selatan, bergerak menuju Kelurahan Tamaona dan desa Tonasa Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa. 

Sabtu pagi, 24 Januari 2026, Pelatihan Sehari Pemberdayaan Ekonomi Umat dimulai. Tempatnya di pelataran masjid. Semua bahan dan peralatan telah diatur sedemikian rupa, sesaat sebelum sesi acara pembukaan dimulai. 

Pelatihan dibuka Ketua Parmusi Sulsel Dr. H. Abu Bakar Wasahua. Dihadiri tokoh masyarakat, perwakilan masing-masing desa, dan tokoh pemuda 

Pelatihan ini lebih pada bagaimana Parmusi Sulsel semakin dekat kepada masyarakat, melakukan kegiatan yang bisa langsung dipraktikkan sehingga memiliki nilai positif bagi pengembangan ketahanan keluarga. 

Sementara Ketua DPC Parmusi Tombolo Pao, Drs. H. Abdul Rahman L, menilai pelatihan ini sangat tepat sasaran.  Sehingga hasil pangan yang melimpah dan tidak habis terjual, bisa diolah, dikemas menjadi produksi yang memungkinkan digunakan dalam jangka waktu lama. 

Begitu pula dengan ikan apa saja bisa dibuat menjadi abon. 

"Kalau saya di rumah, meskipun sudah beli banyak ikan, tapi tidak cukup untuk melayani tamu yang setiap saat hadir. Maka dengan olahan ikan menjadi abon, in syaa Allah bisa dikonsumsi dalam jangka waktu lama," katanya. 

Pelatihan dilaksanakan di pelataran Masjid Babul Firdaus Kelurahan Tamaona Kecamatan Tombolo Pao. 

Ketua Pemberdayaan Ekonomi Umat Parmusi Sulsel, Hj. Nuraeni melakukan aksi nyata, berbagi ilmu dan pengalaman serta memiliki komitmen untuk meningkatkan dan memberdayakan potensi ekonomi, terutama kalangan ibu-ibu agar produktif menghasilkan uang dari rumah. 

Dia tiba di  Tombolo Pao bersama tiga orang timnya, setelah pelaksanaan Isra Mikraj telah selesai (Jumat, 23/1) malam. Rombongan nya berjumlah lima orang, termasuk driver yang juga anaknya sendiri. 

Semua peralatan dan bahan dibawa dari Makassar. Panci, wajan, alat press minyak, dua buah kompor, blender, dan lainnya. 

Sebanyak 26 orang ibu-ibu begitu antusias mengikuti pelatihan ini dan langsung dipraktikkan serta dikonsumsi. Ada abon ikan tuna, sambal asam manis dari buah tomat dan cabe besar serta drum stick kaki naga. 

Untuk abon bahannya antara lain ikan tuna, lengkuas, jahe,asam, jeruk, cuka, bawang merah dan bawang putih. Untuk drum stick kaki naga bahan utamanya: ikan, wortel dan kembang tahu. Stick ini sangat bagus dikonsumsi sebagai menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Sedangkan saus tomat bahannya tomat dan cabe besar. 

Mula-mula yang dibuat adalah abon ikan tuna. Proses pembuatannya makan waktu karena mengaduk-aduk hingga warna kekuningan. Setelah itu, abon diangkat dari wajan kemudian dipress minyak nya menggunakan alat press listrik. 

Salah seorang peserta menanyakan alat press minyak itu berapa harganya? Nuraeni menjawab 2,5 juta. "Deh, mahalnya, " kata ibu-ibu hampir serempak. Tapi, meskipun terasa mahal, nanti modalnya akan cepat kembali. 

Nah, setelah abon dipress, selagi hangat segera diurai agar tdk menggumpal. Lalu dimasukkan ke dalam kantong kemasan dan siap dijual atau didistribusi. 

Abon yang baru saja di proses ini dimasukkan ke dalam wadah bewarna hijau. Satu wadah berisi 100 gram. Tiap peserta mendapat satu bungkus. Tapi, kalau ada yang mau tambah, untuk dinikmati keluarga di rumah, dapat membeli dengan mengeluarkan kocek 25 ribu/bungkus.

Sementara selesai tomat, tomat yang telah diblender, diaduk-aduk di atas api lalu ditambahkan gula pasir. Setelah cukup kekentalannya, didinginkan sejenak lalu masukkan dalam kemasan. 

Hasil pembuatan selai ini, langsung dicoba ibu-ibu peserta pelatihan. Tersedia dua bungkus roti tawar. Satu persatu roti tawar diolesi selai yang baru saja        diproses. Hasilnya luar biasa, rasa ingin tambah lagi. Karena rasanya yang nikmat, maka ibu-ibu yang mau membawa pulang ke rumah untuk dicicipi keluarga, hanya mengeluarkan kocek 15 ribu sudah dapat satu kemasan. Begitu pula dengan saus cabe dan stick, paduan rasanya begitu menggoda selera.

*

Sudah puluhan tahun Hj. Nuraeni melakoni usaha ini. Dia juga telah keliling Indonesia, jika ada yang mengundangnya untuk pelatihan. 

Di awal usaha ini dirintis, ditekuni dengan penuh kesabaran dan ketabahaan. "Saya menjualnya ketuk- ketuk picture warga. Door to door. Sekarang, alhamdulillah Bernat kerja keras membuahkan hasil, " cerita Nuraeni. 

Karyawannya kini mencapai 600 orang. Mereka dikelompokkan. "Misalnya kita mau bikin abon, kita kelompokkan dua puluh orang per kelompok, " jelasnya. 

Karyawan yang mereka rekrut, rerata masyarakat tidak mampu dan perempuan korban kekerasan. 

Motivasinya adalah membantu mereka memeroleh income buat keluarganya. "Saya juga berusaha ini, tidak sekadar ingin mengeruk keuntungan semata. Tapi kami bergerak juga di bidang sosial. Maka dalam kemasan abon ikan tuna, kami cantumkan, membeli produk ini berarti Anda ikut serta membantu dalam kegiatan sosial kami terutama terhadap lansia, anak dan perempuan korban kekerasan, " katanya penuh optimis. 

Kepada para peserta, Nuraeni memberi semangat dan motivasi untuk bisa menghasilkan uang dari rumah. Bekerja itu memang melelahkan. "Tapi kita bekerja dari hasil keringat sendiri, jauh lebih baik dari pada sekadar mengharapkan uluran tangan  orang lain," harapnya. Jadi, motivasinya lebih pada bagaimana kita bekerja, berusaha sambil beramal juga. 

*

Pelatihan ini tepat selesai di waktu dhuhur tiba. Peserta yang riang gembira telah memeroleh ilmu, pengalaman dan dapat pula abonnya. Mereka merasa senang dan bahagia nampak dari raut wajahnya. 

Selanjutnya mereka kemas-kemas untuk melaksanakan salat dhuhur berjamaah, sesaat      sebelumnya foto bersama dengan Ketua DPW Parmusi Sulsel dan Ketua DPC Parmusi Tombolo Pao. Saat sesi foto, masing-masing memegang sebungkus abon. (*)