IPHl Sulsel-Kanwil Kemenag Bahas Strategi Pembinaan Haji

IPHl Sulsel-Kanwil Kemenag Bahas Strategi Pembinaan Haji


MAKASSAR, GOWAMEDIA.COM- Ketua Harian Pengurus Wilayah Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Sulawesi Selatan, H.  Abubakar Wasahua, menegaskan koordinasi antara pengurus daerah (PD) dan pengurus wilayah (PW) hingga saat ini berjalan dengan baik.
Dalam pertemuan dengan Kepala Kanwil Kemenag, H Ali Yafid yang didampingi Kabid Penyelenggaraan Haji dan Umrah, H Ikbal Ismail, IPHI membahas langkah-langkah strategis dalam pembinaan jemaah haji, terutama menjelang musim haji tahun 2025.
Abubakar yang juga mantan anggota DPR RI ini menyampaikan pihaknya sangat bahagia karena Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sulsel, juga merupakan pengurus inti di PW IPHI Sulsel, sebagai salah satu Wakil Ketua.
"Kami ingin memastikan IPHI Sulsel berperan aktif dalam mendukung program haji, termasuk dalam merawat kemabruran jemaah setelah pulang ke tanah air," ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, Kakanwil Kemenag Sulsel, H Ali Yafid yang didampingi Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah, H Ikbal Ismail menjelaskan, Kemenag telah melakukan perubahan dalam konsep manasik haji.
Saat ini, katanya, penekanan tidak hanya pada haji mabrur, tetapi lebih pada  kemabruran haji, yang mencakup aspek fisik, mental, dan spiritual dalam menjalankan ibadah haji dengan baik.
"Kami telah menerbitkan empat buku panduan manasik haji terbaru yang membimbing jemaah sejak mereka berangkat dari rumah hingga kembali ke tanah air," ungkapnya.

Kolaborasi IPHI-Kemenag
Kakanwil menambahkan bahwa IPHI memiliki peran strategis dalam membina jemaah pasca-haji agar kemabruran mereka tetap terpelihara. Oleh karena itu, IPHI di daerah seperti Pangkep, Barru, dan Toraja Utara didorong untuk segera melakukan pemilihan dan pelantikan pengurus baru guna memperkuat sinergi dengan Kemenag.
"Akan lebih baik jika program kerja IPHI dapat disinergikan dengan Kemenag, terutama dalam aspek pembinaan jemaah haji," katanya.
Salah satu bentuk kerja sama yang sedang dibahas adalah keterlibatan IPHI dalam pemberangkatan dan penerimaan jemaah haji di asrama haji. Saat ini, proses penerimaan jemaah sudah dipercepat dari enam jam menjadi dua jam dengan sistem one stop service. Namun, Kemenag tetap membuka kemungkinan bagi IPHI untuk berpartisipasi sebagai panitia pemberangkatan dan penerimaan jemaah.


Merawat kemabruran haji juga menjadi fokus utama dalam kerja sama ini. Kakanwil menekankan bahwa ada biaya yang diperlukan untuk menjaga pembinaan jemaah pasca-haji, meskipun jumlahnya tidak besar.
"Kemenag sebagai mitra semua ormas keagamaan akan terus mendukung upaya pembinaan umat, termasuk melalui IPHI," tambahnya.

Sertifikasi Pembimbing Haji

Dalam kesempatan ini, Kakanwil juga mengajak pengurus IPHI Sulsel untuk mengikuti sertifikasi pembimbing manasik haji. Hal ini bertujuan agar IPHI dapat memberikan bimbingan yang lebih profesional dan terstruktur kepada calon jemaah.

Prof. H. Wasir Thalib, salah satu tokoh IPHI, menyampaikan terima kasih atas ruang yang diberikan oleh Kemenag kepada IPHI dalam penerimaan jemaah haji di asrama. Menurutnya, keanggotaan IPHI secara otomatis mencakup semua jemaah yang telah berhaji, sehingga sangat strategis jika IPHI diperkenalkan kepada mereka saat tiba di tanah air.
Sementara itu, Prof. Abd Halim Talli menambahkan bahwa peluang kerja sama antara IPHI dan Kemenag dalam pembinaan jemaah haji sangat besar.
"Karena semua anggota IPHI telah berhaji, mereka dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada calon jemaah, mulai dari persiapan hingga merawat kemabruran haji setelah pulang," ujarnya.

Fokus Sufistik Haji
Dalam pertemuan yang sangat akrab itu, IPHI dan Kanwil Kemenag,  juga menyoroti pentingnya edukasi kepada calon jemaah haji agar mereka benar-benar memahami makna kemabruran haji. Setiap tahun, lebih dari 7.000 jemaah berangkat dari Sulsel, sehingga pembinaan yang lebih substansial sangat diperlukan.
"Saat ini, kita lebih menekankan aspek sufistik dalam haji, bukan hanya seremonial. Lontar jumrah bukan sekadar melempar batu, tetapi harus dihayati sebagai simbol perlawanan terhadap hawa nafsu. Ketika berada di Padang Arafah, semua jemaah sama di hadapan Allah—tidak ada perbedaan status sosial, semua merasakan panas yang sama," jelas H. Ali Yafid.
Kemenag dan IPHI sepakat untuk terus memperkuat sinergi dalam pembinaan jemaah haji, baik sebelum keberangkatan maupun setelah kembali ke tanah air. Dengan demikian, diharapkan para jemaah tidak hanya menjalankan ibadah haji dengan baik, tetapi juga mampu menjaga kemabruran mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai informasi, jemaah haji Sulsel tahun 2025 dijadwalkan mulai masuk asrama pada 1 Mei 2025, sebagai bagian dari persiapan pemberangkatan ke Tanah Suci.(*)