Dari Panggung Puisi Dan Launching Buku "Desir Angin Malino"

Dari Panggung Puisi dan Launching Buku


HUJAN membasahi Gowa, menyelinap di antara kendaraan yang sibuk mengejar libur panjang. Aroma tanah basah berpadu dengan deru mesin, namun di sudut kecil di Jalan Sultan Hasanuddin, kehangatan berbeda menyapa. 

Di dalam Café Masagenae, ruangan penuh dengan cahaya lembut lampu, senyum hangat, dan secangkir teh serta kopi panas. Di tempat inilah, keluarga besar Ikatan Penulis Muslim Indonesia (IPMI) Sulawesi Selatan berkumpul, merayakan cinta mereka pada kata-kata.

"Tak ada kata lelah untuk berkarya," bisik hati di antara mereka. Kalimat itu tidak hanya menjadi semboyan, tetapi sebuah napas yang menjelma menjadi kumpulan puisi, kini tersusun rapi dalam buku "Desir Angin Malino." 

Acara peluncuran buku ini, yang dirangkai dengan panggung puisi, menjadi penanda perjalanan tanpa henti para penulis IPMI.

Rahman Rumaday, pembawa acara yang karismatik, membawa suasana sore itu mengalir dengan santai, mengusir dinginnya hujan di luar. Tertawanya ringan, candanya menyelinap di sela-sela obrolan para penulis yang sibuk memesan pisang goreng hangat.

Di antara mereka, Asia Ramli Prapanca, penyair dan akademisi yang dihormati, berdiri dengan anggun di depan panggung kecil itu, membuka pembicaraan tentang isi buku.

"Puisi dalam buku ini beragam," ucapnya, nada suaranya rendah tapi berisi. "Ada yang menulis tentang manusia dan alam, ada juga yang menyentuh hubungan manusia dengan Tuhannya. Malino—yang jadi jiwa buku ini—terasa dalam, tapi tetap ada yang kurang menggali sejarahnya."

Hujan di luar seolah ikut mendengarkan, mengiringi kata-kata penuh makna dari Prapanca. Buku ini, karya kolektif 28 penulis dengan berbagai latar belakang, menyiratkan kekayaan perspektif dan semangat. 

Nama-nama seperti Andi Marliah, Andi Ruhban, Andi Rosmawati, Aslam Katutu, Asmita Viskamira, Asnawin Aminuddin, Badaruddin Amir, Bukamaruddin, Daeng Mangeppek, Efa Fatmawati Halik, Irfan Akbar, Irhyl Makkatutu, Jesi Heny, Lutfia Fitriani, Mira Pasolong, M.Amir Jaya, Muliaty Mastura, Nawir Sulthan, Nur Afni Faradilah, Sri Asfirawati Halik, Sri Gusty, Hj.Sri Rahmi, Sitti Dahlia Azis, Syarif Liwang, Syahrir Rani, Syafruddin Muhtamar,  Suradi Yasil dan Topan Arif Wibowo, terpahat di lembar demi lembar puisi, mencerminkan perjalanan panjang setiap individu yang berkontribusi di buku ini.

Bagi Ketua IPMI Pusat, Muhammad Amir Jaya, hari itu bukan sekadar peluncuran buku atau panggung puisi. Baginya, itu adalah napas yang menjaga langkah perjuangan para penulis Muslim di Sulsel. 

“Perkumpulan penulis itu harus menghasilkan karya,” ucapnya penuh semangat. “Bukan hanya personal, tapi juga kolaboratif, mengandung nilai-nilai ilahiah yang mencerminkan siapa kita.”

Malam menjelang, hujan mulai mereda, tapi semangat di dalam café tetap mengalir. "Desir Angin Malino" bukan sekadar buku, ia adalah bukti bahwa di tengah derasnya hujan kehidupan, kata-kata tetap bisa menjadi api yang hangat.(mmy)