Bukber MW KAHMI Sulsel: "Momen Saling Konfirmasi Dan Menjaga Solidaritas"

Bukber MW  KAHMI Sulsel:

PANAKKUKANG, GOWAMEDIA.COM - Seperti tahun-tahun sebelumnya, Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Sulawesi Selatan kembali menggelar silaturahmi dan buka puasa bersama sebagai agenda tahunan. Acara buka puasa Ramadan 1446 H kali ini berlangsung di Swiss-Belhotel, Jalan Adiyaksa, Makassar, pada Jumat, 14 Maret 2025.

Yang membedakan bukber tahun ini dari tahun-tahun sebelumnya adalah konsep duduk lesehan di atas kain putih yang melingkar. Format ini sengaja diterapkan untuk menciptakan suasana yang lebih akrab, memudahkan interaksi, dan mempermudah pelaksanaan salat magrib berjamaah.

Koordinator Presidium MW KAHMI Sulsel, Nikmatullah, SE, Ak, dalam sambutan singkatnya menegaskan bahwa silaturahmi bukan sekadar pertemuan biasa, tetapi juga menjadi sarana untuk saling mengkonfirmasi kondisi satu sama lain.

"Silaturahmi seperti yang kita lakukan ini adalah untuk saling mengkonfirmasi satu sama lain. Apakah dalam kondisi sehat, sakit, serta untuk mengklarifikasi beragam berita dan informasi hoaks yang begitu mudah menyebar di sekitar kita. Terlalu banyak muncul cerita-cerita yang tidak jelas, sehingga silaturahmi menjadi semakin penting," ujarnya.

Lebih lanjut, Nikmatullah mengingatkan bahwa menjaga tali silaturahmi juga memiliki dampak positif bagi kehidupan, baik secara sosial maupun spiritual. 

Rasulullah ? bersabda: "Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi." (HR. Bukhari No. 5985, Muslim No. 2557).

Hadis ini menegaskan bahwa silaturahmi bukan hanya berdampak pada hubungan sosial, tetapi juga menjadi sebab datangnya keberkahan dalam hidup seseorang.

Sementara itu, salah satu Presidium MW KAHMI Sulsel, Prof. Mustari Mustafa, memberikan wejangan yang lebih mendalam tentang makna puasa dalam perspektif sosial. Ia mengutip firman Allah:

"(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 184)

Menurutnya, puasa bukan hanya ibadah pribadi, tetapi juga membangun rasa solidaritas antar sesama, mengasah kepekaan sosial, dan menjadi jalan dalam mengentaskan kemiskinan.

"Salah satu hikmah terbesar dari puasa adalah bagaimana seorang hamba dapat mewakafkan sebagian hartanya di jalan Allah. Sebab, harta yang tidak diinfakkan atau diwakafkan untuk kebaikan, pada akhirnya hanya akan menjadi beban di akhirat kelak," lanjutnya.

Sebagai contoh nyata, ia mengisahkan tentang seorang alumni HMI yang mewakafkan tanahnya di daerah Talasalapang. Tanah tersebut, jika dimanfaatkan secara produktif—misalnya dengan membangun gedung serbaguna yang bisa disewakan—maka tidak hanya akan menjadi amal jariyah bagi pewakafnya, tetapi juga bisa membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

Allah berfirman: "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 261)

Prof. Mustari juga menekankan bahwa ketulusan dalam beragama bukan hanya diukur dari ritual ibadah, tetapi juga dari sejauh mana kita peduli terhadap kondisi sosial di sekitar kita. 

Ia mengingatkan firman Allah: "Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin." (QS. Al-Ma’un: 1-3)

"Artinya, seseorang yang rajin beribadah namun abai terhadap kaum dhuafa, sejatinya belum memahami esensi dari ajaran Islam. Maka sangat tepat jika kita membersihkan harta kita dengan zakat, infak, dan sedekah," tegasnya.

Rasulullah ? juga bersabda: "Bukanlah seorang mukmin, orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya." (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 9587, dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ No. 5382)

Selain berbicara tentang kepedulian sosial, Prof. Mustari juga menyinggung pentingnya gaya hidup sederhana dan efisiensi anggaran, yang saat ini juga menjadi kebijakan pemerintah.

"Spirit penghematan anggaran yang dicanangkan pemerintah sejalan dengan ajaran Islam, yaitu hidup sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Ini juga menjadi refleksi bagi kita di HMI-KAHMI untuk lebih peka terhadap kebutuhan umat dan lebih memperkuat solidaritas antar sesama," ungkapnya.

Allah berfirman: "Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS. Al-Isra’: 26-27)

Menurutnya, dengan menerapkan pola hidup sederhana, kita bisa lebih banyak berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Hal ini juga akan membantu mengurangi kesenjangan sosial antara kelas bawah, menengah, dan elit.

Karena itu, lanjutnya, spirit pemerintah dalam melakukan efisiensi anggaran adalah sebagai momentum untuk hidup tidak bergaya hidup mewah dan berlebih-lebihan. 

Penghematan anggaran yang telah dicanangkan pemerintah, adalah spirit yang diajarkan agama kita yakni hidup sederhana dan tidak berlebih-lebihan. 

Maka efisiensi anggaran ini, tentu menjadi warning pula kita di HMI-KAHMI untuk dapat mengasah kepekaan, mengasah rasa solidaritas yang tinggi di antara sesama dan yang terkait dengan hajat hidup orang banyak. 

Puasa mengasah empati untuk lebih banyak berbagi di bulan mulia ini.(*)