Bahlil Lahadalia: "Jangan Ajari Saya Naik Angkot!"

BOGOR, GOWAMEDIA.COM–Matahari belum tinggi ketika seorang remaja berseragam SMA melompat cekatan dari pintu angkot, satu tangan menggenggam uang kertas lusuh, satu lagi mencengkram erat kusen pintu. “Ayo, maju, maju, masih muat satu lagi!” serunya lantang. Remaja itu adalah Bahlil Lahadalia, yang kala itu sibuk menarik penumpang di terminal.
Bertahun-tahun berlalu, kini dia bukan lagi kondektur atau sopir angkot. Dia duduk di kursi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sekaligus menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Namun, satu hal yang tak berubah—pengalamannya di jalanan masih melekat dalam ingatannya.
Saat menanggapi usulan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) agar pejabat lebih sering menggunakan angkutan umum, Bahlil menanggapi dengan senyum.
"Tolong kasih tahu kepada pengamat itu, jangan ajari saya naik angkutan umum. Saya kondektur angkot tiga tahun di terminal, sopir angkot dua tahun waktu SMA, dan kuliah juga bawa angkot," ujarnya di Bogor, disambut tawa hadirin.
Dia melanjutkan, “Kalau pejabat butuh kursus naik angkot, biar saya yang jadi pengajarnya.”
Tak banyak yang tahu, perjalanan hidup Bahlil bukanlah kisah instan menuju puncak. Lahir dari keluarga sederhana di Papua, dia merintis kariernya dari nol. Mengemudikan angkot bukan sekadar pengalaman, tapi bagian dari perjuangannya menaklukkan hidup.
Dari Jalanan ke Kabinet
Bahlil memahami betul denyut kehidupan masyarakat bawah. Dari balik kemudi angkot, dia melihat kerasnya realitas jalanan, belajar bernegosiasi dengan penumpang, hingga memahami arti kerja keras. Maka, ketika kini ia diminta lebih sering naik transportasi umum, ia tidak menolaknya.
“Bagi saya, itu bukan sesuatu yang luar biasa. Transportasi umum adalah bagian dari hidup saya,” katanya.
“Cuma ya, saya tidak perlu mengumumkan setiap kali naik angkot, kan?”
Di balik candanya, terselip pesan, memahami transportasi umum bukan hanya soal duduk di dalamnya, tapi juga tentang memahami denyut kehidupan yang berjalan bersamanya.
Bahlil sudah lebih dulu belajar itu, bahkan jauh sebelum dia mengenakan jas menteri.(*)