Mengenang Dr. Nurkhalis Ahmad Ghaffar: Ilmu, Canda, Dan Kebaikan Yang Tertinggal
MAKASSAR, GOWAMEDIA.COM - Ada orang-orang yang dikenang bukan karena jabatan yang pernah dipegangnya, melainkan karena cara ia memperlakukan orang lain: dengan ramah, dengan canda, dan dengan hati yang lapang. Begitulah banyak orang mengingat sosok Dr. Nurkhalis Ahmad Ghaffar, M.Hum.—dosen yang humoris, sombere’, dan hangat—yang berpulang ke Rahmatullah pada Sabtu, 7 Maret 2026, beberapa menit setelah waktu berbuka puasa, di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo.
Kepergiannya membawa duka mendalam bagi keluarga besar Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Bukan hanya karena ia seorang akademisi, melainkan karena ia adalah pribadi yang membuat ruang-ruang kampus terasa lebih manusiawi—dengan tawa yang ringan, sapaan yang tulus, dan kehadiran yang menenangkan.
Sejak Sabtu malam, rumah duka di Komplek Griya Mutiara Timur 1, Jalan Syekh Yusuf, Gowa, tak pernah sepi. Para pelayat datang silih berganti. Kolega, sahabat, mahasiswa, dan kerabat berdiri dalam suasana haru yang nyaris tak memerlukan banyak kata. Kehilangan seperti ini biasanya hanya bisa dijelaskan oleh kenangan.
Ahad pagi, 8 Maret 2026 sekitar pukul 09.00 WITA, halaman rumah duka kembali dipenuhi orang-orang yang datang memberi penghormatan terakhir. Di antara mereka tampak mantan Rektor UIN Alauddin Makassar Qadir Gassing, mantan Wakil Rektor III Aisyah Kara dan Natsir Siola, Wakil Rektor IV Abu Nawas, Direktur Pascasarjana Abustami Ilyas, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Barsihannor, serta mantan Dekan Fakultas Dakwah Muliati Amin. Para dosen dan mahasiswa pun berdatangan, seakan ingin memastikan bahwa perpisahan ini benar-benar terjadi.
Dalam perjalanan akademiknya, Nurkhalis bukanlah sosok yang jauh dari kerja-kerja kelembagaan. Saat berpulang, ia masih menjabat Wakil Dekan III Fakultas Adab dan Humaniora. Sebelumnya, ia pernah memimpin Jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Pada masa kepemimpinannya, jurusan itu berhasil meraih akreditasi A—sebuah capaian yang lahir dari kerja sunyi yang sering tak banyak disorot.
Namun bagi banyak orang, warisan terbesarnya bukan sekadar capaian administratif, melainkan keteladanan sikap.
“Beliau orang yang sangat baik dan bijak. Kepergiannya bukan hanya kehilangan bagi keluarga tercinta, tetapi juga kehilangan besar bagi lembaga yang selama ini beliau layani dengan dedikasi, ketulusan, dan kehangatan yang luar biasa,” tulis Prof Barsihannor dalam pesan yang dibagikan di grup WhatsApp.
Sementara akademisi Mohammad Sabri AR mengenang almarhum sebagai salah satu perintis lahirnya Character Building Program (CBP) di UIN Alauddin Makassar pada 2010—sebuah program yang bertujuan menanamkan nilai-nilai karakter di lingkungan kampus.
“Kita berempat yang secara serial melakukan tahapan inisiasi, konseptualisasi, dan aktualisasi CBT di UIN serta sejumlah kampus seperti Palopo, Gorontalo, dan Kendari,” tulisnya dalam grup WhatsApp Alumni HMI IAIN-UIN.
Dalam pesan yang sama, Prof Sabri menutup dengan kalimat yang terasa seperti pelukan perpisahan.
“Selamat jalan adikku sayang. Insya Allah kami akan menyusulmu dalam perjalanan pulang ke titik berangkat itu. Engkau berangkat dengan senyum, kami berkaca-kaca dalam Mahacinta-Nya.”
Dr. Nurkhalis Ahmad Ghaffar lahir di Ujungpandang pada 15 Januari 1972. Ia meninggalkan seorang istri, dua orang putri, dan seorang putra yang saat ini tengah menempuh pendidikan di Jepang.
Rencananya, almarhum akan dimakamkan di Kabupaten Takalar setelah salat Zuhur.
Seorang dosen telah pergi. Seorang sahabat telah berpulang. Namun bagi mereka yang pernah mengenalnya, Nurkhalis mungkin tidak benar-benar hilang. Ia tinggal dalam cerita-cerita kecil tentang tawa di ruang dosen, tentang nasihat yang sederhana tetapi menguatkan, dan tentang kebaikan yang diberikan tanpa banyak suara.
Barangkali itulah cara terbaik seseorang dikenang: tidak dengan kebesaran namanya, tetapi dengan kehangatan yang ia tinggalkan di hati banyak orang.(*)