Masjid Zayed, Surakarta: Megah Arsitekturnya, Lembut Pesannya
SURAKARTA, GOWAMEDIA.COM - Gerimis tipis menyelimuti langit Surakarta ketika kereta berhenti di , Sabtu sore itu. Hiruk-pikuk libur panjang Imlek belum reda—rombongan berswafoto, suara tawa bersahutan, antrean kendaraan daring mengular. Namun dari balik lorong stasiun, sebuah bangunan putih menjulang tenang, seolah tak terusik riuh kota. Empat menaranya tegak mengarah ke langit, memanggil siapa saja yang ingin singgah—bukan sekadar berkunjung, tetapi belajar tentang rendah hati dan toleransi.
Hanya sekitar sepuluh hingga lima belas menit perjalanan, kendaraan berbelok menuju Jalan Ahmad Yani. Kubah putih itu kian jelas. Empat menara berdiri anggun mengapit satu kubah utama, dikelilingi puluhan kubah kecil yang membentuk komposisi simetris. Masjid yang berdiri di atas lahan kurang lebih tiga hektar ini merupakan replika dari masjid megah di Abu Dhabi, menghadirkan nuansa arsitektur Timur Tengah yang kokoh dan berwibawa di jantung Kota Solo.
Di sisi kiri pintu masuk area masjid, tampak ATM Centre dan satu unit ambulans siaga. Bus-bus rombongan terparkir rapi. Kendaraan pribadi mengantre tertib. Di bagian depan, deretan pedagang kuliner menjajakan makanan dan minuman. Beberapa ibu menawarkan kantong plastik kepada para pengunjung.
Untuk apa kantong kresek?
Ternyata jamaah diperkenankan membawa sepatu dan sandal masing-masing ke dalam dengan memasukkannya ke kantong plastik. Cara sederhana namun efektif menjaga ketertiban. Beruntung saya selalu membawa kantong sendiri setiap bepergian, sehingga tak perlu membeli, meski para penjual mendekat menawarkan dengan ramah.
“Ayo-ayo yang mau salat. Monggo, waktu magrib sudah hampir tiba,” suara petugas terdengar melalui pengeras suara.
Langkah dipercepat. Antrean masuk tertib dan teratur. Masuk ke masjid ini bukan sekadar melangkah begitu saja. Setiap tas dan barang bawaan diperiksa melalui mesin X-Ray Scanner. Petugas sigap, profesional. Beberapa korek gas terlihat disita—barang yang tak diperkenankan dibawa ke dalam.
Ketika giliran saya dan anak perempuan saya tiba, seorang petugas perempuan mengarahkan kami ke sisi kanan.
“Maaf ya ibu, tas ini berisi makanan. Boleh dikeluarin dulu makanannya,” ujarnya sopan.
Saya pun membuka tas, mengeluarkan makanan satu per satu sambil terus dipantau. Mukenah yang hendak saya pakai entah terselip di mana. Setelah beberapa saat, petugas itu berkata lembut, “Silakan masuk saja Ibu. Saya percaya Ibu tidak akan makan dalam masjid.”
“Masak makan dalam masjid. Kita kan mau salat,” jawab saya spontan.
Ia tersenyum. Dialog singkat itu menyisakan kesan mendalam. Di tempat ini, ketertiban dijaga tanpa kehilangan rasa saling percaya.
Magrib hampir tiba. Bergegas saya melepas sepatu dan kaos kaki, memasukkannya ke dalam kantong kresek. Melewati teras, sebelum menuju ruang utama, di sisi kiri terdapat miniatur masjid yang menjadi titik foto favorit pengunjung. Tak jauh dari sana, tersimpan Mushaf Akbar—karya para ulama dan tim dari (Unsiq) yang dihadiahkan kepada Presiden ke-7 RI, .
Mushaf tersebut mulai ditulis pada 21 Ramadan 1438 H atau tahun 2017 dan rampung pada 21 September 2023. Ukurannya besar, ditempatkan dalam ruang khusus, menjadi simbol penghormatan terhadap Al-Qur’an sekaligus kebanggaan intelektual.
Masuk lebih dalam, terdapat ruang terbuka tanpa atap. Banyak wisatawan duduk beristirahat dan mengambil gambar, namun tidak diperkenankan makan. Di sisi kiri dan kanan terdapat lorong menuju tempat wudhu, tetapi lokasinya berada di bagian bawah. Jamaah harus berjalan lurus hingga menemukan tangga menurun.
Di setiap sudut, petugas berjaga lengkap dengan Handy Talkie di tangan. Koordinasi berlangsung cepat dan rapi. Area wudhu perempuan luas dan bersih, dengan fasilitas toilet memadai serta sarana khusus bagi penyandang disabilitas. Rancangan yang tidak sekadar indah secara visual, tetapi juga inklusif secara fungsi.
Usai berwudhu, petugas kembali mengarahkan jalur masuk menuju ruang salat utama. Karpet bermotif batik kembang besar membentang dengan warna dasar coklat berpadu hitam abu-abu. Empuk dan nyaman. Secara refleks mungkin orang ingin selonjoran, tetapi baru saja ada jamaah berbaring, petugas segera mengingatkan agar tidak berbaring di area sujud. Tegas, namun tetap santun.
Selepas salat magrib, saya menoleh ke samping kanan dan mengulurkan tangan. Seorang remaja menyambut dengan senyum.
“Saya Ita dan saya Eca,” katanya ramah.
“Baru berkunjung ke masjid ini?” tanya saya.
“Iya, baru.”
“Ke sini dengan siapa, dengan keluarga?”
“Dengan teman-teman sekolah SMP Negeri empat Demak.”
“Jumlahnya ada berapa orang?”
“Semua siswa ada dua ratus lima puluh orang. Menggunakan tujuh bus didampingi delapan belas guru,” Ita menjelaskan antusias.
“Bagaimana kesan kali pertama menginjakkan kaki di masjid ini?”
“Wow, mengagumkan. Ini aja sudah terkagum-kagum. Apalagi kalau Masjid Nabawi dan Masjidil Haram,” kata Ita sambil tersenyum.
Kekaguman itu terasa tulus. Bagi rombongan pelajar tersebut, kunjungan ini bukan sekadar wisata religi, tetapi pengalaman spiritual yang membuka imajinasi tentang pusat-pusat peradaban Islam dunia.
Menariknya, tidak ada papan nama besar di bagian depan masjid sebagaimana lazimnya masjid di Indonesia. Identitasnya justru ditemukan di dinding tembok berwarna keemasan, tidak jauh dari Mushaf Akbar. Di sana tertulis nama Almarhum Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, disertai nasihat yang sarat makna:
“Nasihat yang paling berharga untuk anak-anakku adalah menjauhkan diri dari kesombongan. Saya percaya bahwa orang-orang hebat dan kuat tidak dapat direndahkan atau dilemahkan yaitu dengan memperlakukannya secara rendah hati dan bertoleransi. Toleransi di antara sesama manusia menciptakan rasa kasih. Seseorang sebaiknya penuh rasa kasih dan damai terhadap sesama manusia saudaranya.”
Pesan itu terasa hidup. Di tengah keramaian wisatawan, disiplin pemeriksaan, aturan ketat, dan geliat ekonomi di sekelilingnya, masjid ini justru menghadirkan keteduhan.
Menurut salah seorang penjual kuliner, dahulu lokasi ini adalah persawahan dan depot Pertamina. Setelah masjid diresmikan pada 2023, kawasan sekitar mulai ramai pedagang.
“Kalau sudah ada masjid besar begini, orang datang terus. Ya di mana ada gula, di situ ada semut,” ujarnya sambil tersenyum.
Ungkapan sederhana itu menggambarkan bagaimana ruang ibadah juga menjadi pusat pertumbuhan sosial dan ekonomi.
Masjid Raya Sheikh Zayed bukan sekadar destinasi wisata religi. Ia adalah ruang belajar tentang tertib, disiplin, dan saling menghormati. Di bawah kubah putihnya, orang-orang dari berbagai daerah bertemu, beribadah, dan berbagi kesan. Di antara gerimis, riuh stasiun, dan gema azan magrib, satu pesan mengendap kuat: kebesaran sejati lahir dari kerendahan hati dan toleransi yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.(*)