Hikmah Ramadan 1447/2026: Takwa Berawal Dari Hati Yang Terpaut Kepada Allah
SUNGGUMINASA, GOWAMEDIA.COM — Memasuki pertengahan Ramadan 1447 H, umat Islam diajak untuk tidak sekadar menjalani ibadah puasa secara ritual, tetapi melakukan evaluasi diri atas perubahan yang telah dicapai. Pesan itu disampaikan Dr H Asri, Lc, MA dalam ceramah tarawih di Masjid Agung Syekh Yusuf, Rabu (4/3/2026).
Dalam tausiyah bertema “Menggapai Hakikat Ketakwaan di Bulan Ramadan”, ia menegaskan bahwa Ramadan adalah momentum muhasabah.
“Memasuki pertengahan Ramadan, hendaknya kita bertanya pada diri sendiri, apakah sudah ada perubahan dalam diri kita? Apakah kualitas ibadah, akhlak, dan kedekatan kita kepada Allah semakin meningkat?” ujarnya.
Menurutnya, Allah SWT tidak memerintahkan puasa untuk membuat manusia menderita. Puasa justru sarana pembinaan spiritual dan jasmani. “Semua ahli kesehatan mengakui bahwa puasa membawa manfaat bagi tubuh. Namun lebih dari itu, tujuan utamanya adalah mengantarkan kita pada derajat takwa,” katanya.
Ia merujuk firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 tentang kewajiban puasa agar umat Islam menjadi orang-orang yang bertakwa. Lalu, apa hakikat takwa itu?
Dr Asri mengutip pandangan sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib, yang menjelaskan bahwa takwa memiliki empat komponen utama.
Pertama, hati yang terpaut kepada Allah SWT, yakni adanya rasa takut kepada-Nya. “Orang bertakwa adalah orang yang dekat dengan Allah. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin kuat rasa takutnya. Sebaliknya, semakin jauh, semakin hilang rasa takut itu,” jelasnya.
Salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah, lanjutnya, adalah dengan membaca dan mentadabburi Alquran. Ia menekankan pentingnya memahami Surah Al-Fatihah sebagai pintu ma’rifat kepada Allah.
“Memahami Al-Fatihah adalah salah satu jalan untuk mengenal Allah secara lebih dalam,” ujarnya.
Kedua, mengamalkan apa yang diturunkan Allah, yakni Alquran. Orang bertakwa meyakini sepenuhnya kebenaran firman Allah dan berusaha mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Tidak mungkin Allah salah dalam berfirman. Karena itu, orang bertakwa percaya dan tunduk pada seluruh isi Alquran,” katanya.
Ketiga, rida terhadap ketentuan Allah. Sikap merasa cukup atas apa yang diberikan Allah akan melahirkan ketenangan jiwa.
“Ketika seseorang rida, ia tidak gelisah oleh dunia. Ia yakin bahwa apa yang Allah tetapkan adalah yang terbaik baginya,” ungkapnya.
Keempat, menyiapkan diri untuk perjalanan panjang setelah kematian. Ia mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara.
“Kubur adalah tempat transit menunggu hari kiamat. Ia bisa menjadi taman dari taman-taman surga atau lubang dari lubang-lubang neraka,” tuturnya.
Dr Asri juga menggambarkan dahsyatnya hari kebangkitan. Saat dibangkitkan, manusia berada dalam keadaan tanpa busana, sebagaimana ketika dilahirkan. Waktu menunggu hisab di Padang Mahsyar, katanya, setara dengan 50 ribu tahun di dunia.
“Pada saat itu, seluruh manusia berharap agar hisab segera dipercepat karena begitu beratnya keadaan,” ujarnya.
Ia pun mengajak jamaah menjadikan sisa Ramadan sebagai momentum memperbaiki kualitas takwa.
“Ramadan adalah kesempatan emas. Jangan sampai ia berlalu tanpa meninggalkan jejak perubahan dalam diri kita,” katanya menutup ceramah.(*)