Hikmah Ramadan 1447/2026: Ramadan Sebagai Hadiah Terindah Umat Rasulullah
SUNGGUMINASA, GOWAMEDIA.COM — Ramadan merupakan anugerah istimewa yang Allah SWT karuniakan kepada umat Nabi Muhammad SAW. Pada bulan inilah pintu-pintu kebaikan dibuka seluas-luasnya dan ampunan dilimpahkan tanpa batas.
Pesan itu disampaikan Dr H Abdul Wahid MA dalam ceramah tarawih di Masjid Agung Syekh Yusuf, Selasa (3/3/2026) malam.
Menurutnya, Alquran telah menegaskan tujuan utama puasa dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, yakni agar orang-orang beriman meraih derajat takwa.
“Ramadan adalah jalan menuju takwa. Karena itu ia adalah hadiah terindah bagi umat Rasulullah,” ujarnya.
Ia kemudian menguraikan lima hadiah besar Ramadan dengan merujuk pada dalil-dalil sahih.
Pertama, dibukanya pintu-pintu surga dan ditutupnya pintu-pintu neraka. Ia mengutip hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim:
“Apabila datang bulan Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”
Hadis ini, kata dia, menunjukkan suasana spiritual yang Allah ciptakan agar umat lebih mudah meninggalkan maksiat dan memperbanyak amal saleh.
Kedua, doa dan istighfar malaikat bagi orang-orang yang berpuasa. Ia merujuk riwayat Imam Ahmad dan sejumlah ulama hadis bahwa malaikat memohonkan ampun bagi orang yang berpuasa hingga ia berbuka. Karena itu, ia mengajak jamaah memperbanyak tasbih dan istighfar, terutama saat sahur dan berbuka.
“Bayangkan, malaikat memohonkan ampun untuk kita. Maka jangan sia-siakan Ramadan,” katanya.
Ketiga, surga berhias menyambut Ramadan. Dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi disebutkan bahwa ketika Ramadan tiba, surga berhias dan para bidadari bersiap menyambut hamba-hamba Allah yang berpuasa.
“Ini isyarat kemuliaan Ramadan di sisi Allah,” ujarnya.
Keempat, kemuliaan bau mulut orang berpuasa. Ia mengutip hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim:
“Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau kasturi.” Menurutnya, kemuliaan itu bukan pada aroma fisik, melainkan pada nilai ketaatan dan pengorbanan yang lahir dari ibadah puasa.
Kelima, luasnya ampunan Allah di bulan Ramadan. Ia mengingatkan hadis riwayat Imam Tirmidzi yang menyebutkan celakanya orang yang mendapati Ramadan namun tidak diampuni dosanya. Ia juga menyinggung hadis qudsi riwayat Imam Muslim tentang besarnya rahmat Allah dan kegembiraan-Nya atas tobat hamba.
“Beruntung orang yang merasa berdosa lalu bertobat. Celaka ahli ibadah yang tidak pernah merasa berdosa kepada Allah,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengingatkan agar pelaksanaan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan tidak mengabaikan kewajiban utama. Menurutnya, ibadah sunnah tidak boleh mengalahkan tanggung jawab yang bersifat wajib, seperti menafkahi keluarga atau menjalankan tugas profesional.
“Dokter yang harus menangani pasien, kepala keluarga yang mencari nafkah, orang tua yang mengantar anak sekolah—itu semua amanah. Menunaikan kewajiban lebih utama daripada ibadah sunnah,” ujarnya.
Ia berharap jamaah dapat memanfaatkan Ramadan untuk meraih ampunan dan benar-benar mencapai derajat takwa.
“Semoga kita semua memperoleh hadiah terindah itu dan keluar dari Ramadan sebagai hamba yang lebih dekat kepada Allah SWT,” katanya. (*)