Hikmah Ramadan 1447/2026: Ramadan Dan Perisai Ketakwaan

Hikmah Ramadan 1447/2026:
Ramadan dan Perisai Ketakwaan


BONTO-BONTOA, GOWAMEDIA.COM — Ustad Dr Musbaing, M.Pd.I menyampaikan tausiyah tentang keutamaan Bulan Suci Ramadan di Masjid Nurul Yusuf, Jalan Andi Tonton, Kabupaten Gowa, Ahad (1/3/2026). Dalam ceramahnya, ia menegaskan bahwa Ramadan adalah bulan penuh jaminan ampunan dan kesempatan taubat yang terbuka luas sepanjang siang dan malam.

“Ramadan itu ada jaminan siang dan malamnya untuk bertaubat. Allah memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk beribadah dengan imbalan pahala yang berlipat ganda,” ujar Dr Musbaing di hadapan jamaah.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183). Menurutnya, ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan, yakni menghadirkan kesadaran penuh akan pengawasan Allah dalam setiap keadaan.

Kaum yang Beruntung

Dr Musbaing mengingatkan bahwa tidak semua orang diberi kesempatan bertemu Ramadan. “Kita adalah kaum yang beruntung karena diperkenankan sampai pada Ramadan. Betapa banyak orang yang berdoa agar dipertemukan dengan Ramadan, namun Allah mencukupkan umurnya sebelum bulan suci ini tiba,” katanya.

Ia juga mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, bahwa Rasulullah bersabda, “Sungguh merugi seseorang yang mendapati Ramadan kemudian Ramadan berlalu sebelum ia mendapatkan ampunan.” Hadis ini, menurutnya, menjadi peringatan keras agar umat Islam tidak menyia-nyiakan momentum pengampunan.

Lebih lanjut ia menjelaskan, di bulan Ramadan pintu ampunan dibuka sepanjang waktu. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila datang bulan Ramadan, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Di luar Ramadan, momentum pengampunan memang ada, seperti pada lima waktu salat dan Jumat ke Jumat berikutnya. Tapi di Ramadan, Allah buka pintu maaf itu siang dan malam,” jelasnya.

Shaum dan Shiyam

Dalam tausiyahnya, Dr Musbaing juga membedakan istilah shaum dan shiyam. Ia menjelaskan bahwa kata shaum dalam Al-Qur’an disebutkan dalam konteks menahan diri secara umum, seperti dalam kisah Maryam, “Sesungguhnya aku bernazar berpuasa (shauman) untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini” (QS. Maryam: 26).

Sementara shiyam dalam Al-Qur’an lebih sering merujuk pada puasa dalam syariat Islam yang mengandung dimensi ibadah dan pembentukan ketakwaan.

“Shiyam itu membentuk junnah, perisai dalam diri. Nabi bersabda, ‘Puasa adalah perisai’ (HR. Bukhari dan Muslim). Ketika seseorang sudah berniat puasa, meski tidak ada yang melihat, ia tidak akan membatalkannya karena ada benteng iman dalam dirinya,” ujarnya.

Ia juga mengutip hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, bahwa Allah SWT berfirman, “Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Menurutnya, hadis ini menunjukkan keistimewaan puasa yang nilainya langsung di tangan Allah SWT.

Teladan Generasi Rasulullah

Dr Musbaing mengingatkan bahwa pada masa Rasulullah SAW, para sahabat tetap berpuasa meski berada dalam kondisi berat, bahkan saat peperangan. Di malam hari, mereka tetap menegakkan qiyamul lail.

“Zaman Rasulullah, siang hari mereka berpuasa, bahkan berjihad di medan perang. Malamnya tetap qiyamul lail. Sekarang kita apa masalahnya sampai tidak bisa? Kita tidak dalam kondisi perang, masjid ber-AC, kendaraan mudah, fasilitas lengkap,” tuturnya.

Ia menutup tausiyahnya dengan ajakan agar jamaah memanfaatkan Ramadan sebaik-baiknya. “Mari kita manfaatkan Ramadan ini, agar kita dipertemukan lagi dengan Ramadan-Ramadan berikutnya dalam keadaan lebih baik,” katanya.

Ramadan, menurutnya, bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum transformasi spiritual yang menentukan kualitas kehidupan seorang Muslim di dunia dan akhirat.