Hikmah Ramadan 1447/2026: "Doa Adalah Inti Ibadah"

Hikmah Ramadan 1447/2026:

SUNGGUMINASA, GOWAMEDIA.COM — Ceramah tarawih di Masjid Agung Syekh Yusuf pada Senin malam (16/3/2026) menghadirkan penceramah H. Jafaruddin, S.Ag., MA. Dalam tausiyahnya yang mengangkat tema “Doa adalah Inti Ibadah”, ia mengajak jamaah memanfaatkan bulan Ramadan dengan memperbanyak doa sebagai salah satu ibadah yang paling dicintai Allah SWT.

Dalam ceramahnya, Jafaruddin mengingatkan pentingnya bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada umat Islam untuk kembali bertemu dengan bulan suci Ramadan. Menurutnya, Ramadan merupakan waktu terbaik untuk memperbanyak amal saleh, termasuk memperbanyak doa.

Ia menjelaskan, selama ini sebagian orang memaknai doa hanya sebagai permintaan kepada Allah. Padahal, doa sejatinya adalah ibadah yang menunjukkan ketundukan dan ketergantungan seorang hamba kepada Tuhannya.

“Doa adalah komitmen seorang hamba kepada Allah SWT bahwa hanya kepada-Nya kita memohon dan hanya kepada-Nya tempat kita bergantung,” ujarnya di hadapan jamaah.

Ia menegaskan bahwa Allah tidak menyukai hamba yang menggantungkan harapan kepada selain-Nya. Karena itu, semakin sering seorang hamba berdoa, merendahkan diri, bahkan menangis memohon kepada Allah, maka semakin dicintai oleh-Nya.

Jafaruddin kemudian mengutip firman Allah dalam Al-Qur'an Surah Ghafir ayat 60:

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.”

Selain itu, ia juga menyampaikan hadis Nabi Muhammad SAW yang menegaskan kedudukan doa sebagai inti ibadah. Rasulullah SAW bersabda:

“Ad-du‘a’ huwa al-‘ibadah (Doa itu adalah ibadah).” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Ad-du‘a’ mukhkhul ‘ibadah (Doa adalah inti atau sumsum ibadah).” (HR. At-Tirmidzi)

Ia juga menyampaikan hadis yang menjelaskan bahwa setiap doa seorang Muslim pasti mendapatkan jawaban dari Allah selama tidak mengandung dosa atau memutuskan silaturahmi. Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah seorang Muslim berdoa kepada Allah dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan tidak memutuskan silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal: pertama, disegerakan pengabulannya. Kedua, disimpan untuknya sebagai pahala di akhirat, atau ketiga, dihindarkan darinya keburukan yang semisal dengannya.” (HR. Ahmad)

Menurut Jafaruddin, banyak orang merasa doanya tidak dikabulkan karena tidak memahami cara Allah mengabulkan doa tersebut. Padahal, Allah bisa saja mengganti doa itu dengan kebaikan lain atau menjadikannya sebagai penolak bala.

Ia juga mengutip perkataan Umar bin Khattab yang menyatakan bahwa dirinya tidak terlalu memikirkan apakah doa akan dikabulkan atau tidak. Menurut Umar, jika seseorang telah diberi ilham untuk berdoa, maka di dalamnya sudah terdapat tanda bahwa pengabulan doa itu menyertainya.

Dalam ceramahnya, ia menjelaskan bahwa doa terbagi menjadi dua. Pertama, doa sebagai ibadah murni seperti dzikir, tasbih, tahmid, dan pujian kepada Allah. Kedua, doa yang berisi permintaan seorang hamba kepada Allah.

Menurutnya, doa permintaan tidak harus selalu menggunakan bahasa Arab. Seorang hamba boleh berdoa dengan bahasa apa pun sesuai kebutuhan dan hajatnya, baik untuk keluarga, pekerjaan, maupun keselamatan dunia dan akhirat.

Ia pun menutup ceramah dengan mengajak jamaah agar tidak pernah lemah dalam berdoa.

“Jangan pernah lemah dalam berdoa. Tidak ada seorang pun yang celaka karena doa. Justru doa menunjukkan bahwa kita benar-benar membutuhkan Allah SWT,” ujarnya.

Jafaruddin mengajak seluruh jamaah untuk menengadahkan tangan kepada Allah dengan penuh kerendahan hati, memohon agar diberikan kebaikan di dunia dan keselamatan di akhirat. (*)